Korban Kerusuhan Etnis Terisolir di Gunung Lingga Sumedang

lokasi transmigrasi yang jberada di kaki Gunung Lingga

SUMEDANG, JP.COM

Sudah jatuh tertimpa tangga. Ungkapan itu cocok dialamatkan kepada puluhan warga transmigrasi lokal di Dusun Sempurmayung Desa Cimarga Kecamata Cisitu Kabupaten Sumedang. Betapa tidak, para korban kerusuhan itu yang semula berharap hidup lebih baik di tempat barunya, tapi kondisi mereka sekarang belum berhasil.

Lokasi Transmigrasi lokal di Kabupaten Sumedang itu memang agak jauh dari pusat kota Sumedang Untuk mencapai lokasi translok Cimarga harus melalui perjalanan yang melelahkan. Jalanny, berada di Kecamatan Cisitu atau arah Wado. Tepatnya berada di Pasir Ingkig Desa Cinangsi. Tak juah dari lokasi translok terdapat Makam Keramat Eyang Tadjimalela.

Untuk mencapai lokasi tersebut bisa memakai kendaraan pribadi atau mobil sport atau naik ojek. Tarifnya sekitar Rp 25.000. Jalan dari Cinangsi ke Cimarga relatif mulus. Hanya dari Desa Cimarga menuju lokasi translok yang jaraknya sekirtar 2 kilometer masih berbatu. Makanya jangan heran banyak kendaraan yang selip atau mogok.

Setelah dua jam perjalanan memakai ojek kita akan disuguhi hawa sejuk Gunung Lingga. Tampak tangga berjejer rapi menuju Makam Prabu Tadjimalela. Sedangkan untuk menuju lokasi translok harus belok kanan.

Sampai di lokasi transmigran nuansa rumah Banjar Kalimantan Selatan tampat terasa. Bentuknya segitiga. Saat itu jarum jam menunjukkan pukul 11.30, namun cuacanya sejuk karena memang mentari terhalang awan.

Hanya beberapa penghuni saja yang ada di rumah. Menurut catatan dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Sumedang warga translok Cimarga adalah campuran korban kerusuhan di Sampit, Papua dan Aceh. Mereka adalah warga Sumedang yang memang menderita di perantauan karena kerusuhan.

Salah seorang warga transmigran itu adalan Bah Juan (57). Dia adalah transmigran dari Sepang Kalimantan Timur yang merupakan korban kerusuhan Sambas sekitar tahun 1992. Ketika Dayak-Madura bertikar yang jadi sasaran dari warga pribumi termasuk para transmigran. Peristiwa berdarah itu mengubah nasib Juan sekeluarga. Dia pun harus mengungsi. Harta bendanya dijual.

Sesampainya di kampung halaman tak langsung ditempatkan di lokasi baru.

“Enam bulan saya diombang-ambing. Saya ditampung di Bandung, setelah ada lokasi baru bisa menetap,” katanya.

Barulah setelah ada lokasi di Cimarga dia bersama korban kerusuhan lainnya menetap. Sebenarnya lokasi translok ini tak hanya diperuntukan bagi korban kerushan ada 60 kk warga Cimarga atau yang lebih dikenal dengan TPS (Transmigran Penghuni Setempat).

Sekitar tahun 1992 kondisi Translok Cimarga masih memprihatinkan, belum ada listrik dan masih dipenuhi semak belukar. Setiap KK diberi 221 bata. Sementara lahan garapan statusnya hak guna pakai.

Selama lima tahun menjalani kehidupan baru di translok, memang masih betah. Karena masih ada jaminan hidup dari pemerintah. Namun setelah jadup habis para transmigran banyak yang tak kerasan.

Juan menjelaskan, lokasi transmigrasi lokal Cimarga sebenatnya sudah mulai ditinggalkan warganya secara bertahap sejak tahun 1996. Kondisi ini dipicu oleh situasi ekonomi yang tidak menunjukkan perbaikan.

Juan memilih bertahan karena ingin membangun hidup yang lebih baik sementara di kampung asalnya ia hanya bekerja sebagai buruh. Ia berharap, dengan menjalani hidup sebagai transmigran bisa meningkatkan perekonomian.

Ia menuturkan, pada awal proyak ini dikerjakan, warga transmigran diberi bantuan 25 ekor domba betina dan dua ekor domba jantan yang sengaja didatangkan dari Garut.

Untuk mendukung usaha tersebut, diberikan pula lahan seluas satu hektar terdiri dari lahan pekarangan dan ladang. (dar/jp)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here