Raja Galuh, PSGC Ciamis dan Semangat Kegaluhan

0
BERBAGI
stadion galu

 

CIAMIS, Jurnal Priangan- Ciamis dikenal sebagai kabupaten Tatar Galuh atau dalam bahasa Indonesia wilayah. Memang ada wacana dari sejumlah tokoh Ciamis untuk mengganti nama kabupatann menjadi Kabupaten Galuh. Itu sesuai dengan semangat kegaluhan atau raja Galuh.

Masyarakat Ciamis yang ada di perantauan kerap menamakan komunitasnya dengan Galuh, sebut saja Pahguyuban wargi Galuh, Galuh Jaya dan Paguyuban Wargi Galuh di Jakarta, Galuh Taruna dan Wargi Galuh di Bandung, Galuh Pamitran di Purwokerto, serta Galuh Rahayu di Yogyakarta.

Nah dengan pencantuman nama Galuh sebagai identitas diri orang Ciamis di perantauan mengindikasikan bahwa nama Galuh diyakini lebih memiliki nilai filosofis dan historis ketimbang nama Ciamis.

Sebenarnya pemakaian nama Galuh itu bukan sekadar romantisme kejayaan Kerajaan Galuh yang pernah meraih zaman keemasan pada masa itu, akan tetapi lebih mengacu kepada semangat kegaluhan kekinian. Artinya masyarakat Tatar Galuh khusunya di Perantauan ingin memberikan sumbangsih kepada masyarakat tatar Galuh melalui ide, gagasan, maupun tenaga dengan semangat kegaluhannya.

Berdasarkan catatn sejarah dulu memang Ciamis adalah Kabupaten Galuh. Perubahan nama itu cenderung berbau nuansa politis yang terjadi pada waktu itu, dimana Pemerintah Hindia Belanda tidak mengangkat bupati yang berasal dari keturunan R.P.A Jayanagara, akan tetapi mengangkat Tumenggung Sastrawinata yang berasal dari Purwakarta sebagai Bupati Galuh. Hal ini dikarenakan, banyak anggota keluarga Bupati Galuh keturunan R.P.A Jayanagara yang menentang kekuasaan Belanda. Pada masa kepemimpinan Tumenggung Sastrawinata (1914-1936) inilah nama Kabupaten Galuh diganti menjadi Kabupaten Ciamis dengan alasan yang tidak jelas.

setelah Galuh dilepas dari wilayah administratif Cirebon dan dimasukkan ke Keresidenan Priangan. Sejak saat itu nama Galuh perlahan memudar dan tidak dipakai lagi, hanya dipakai pada hal-hal yang berkaitan dengan budaya dan sejarah. Hampir sama dengan perubahan nama Kabupaten Galuh menjadi Ciamis, penetapan hari jadi Ciamis pun menuai pro dan kontra.

Nah, soal PSGC Ciamis kenapa tidak memakai PS Ciamis (PSC) malah ditambah kata G dibelakangnya. Seperti Persis Sumedang, Persitas Tasikmalaya yang memakai nama kota. Toh dua kota itu memiliki sejarah kerajaan. Sumedang dengan Sumedang Larangnya dan Sukapura dengan Tasikmalaya. Pada dasarnya urang Ciamis lebih suka memakai nama Galuh. Toko besi terkemuka juga ada yang memakai nama Galuh ya Putera Galuh. Pengusaha besi Sumberjaya Asep Saefudin juga bangga dengan sebutan Putera Galuh.

Mengenai sejarah PSGC, tim ini awalnya sempat terdegradasi di divisi III Nasional. Setelah itu sejumlah pengusaha ciamis dan Pemkab Setempat berembug untuk memajukan PSGC. Dan beberapa mantan pemain nasional Ciamis dipanggil untuk bersama-sama memikirkan kemajuan PSGC. Akhirnya berkat kerja keras dan pengelolaan klub yang profesional, PSGC mampu menapai kasta Divisi utama.

Berada di divisi utama tentunyat tak semudah membalikan telapak tangan. Pada tahun 2004 hingga 2006 pernah vacum vacum dari berbagai aktivitasnya bahkan terancam terdegradasi oleh Pengda PSSI Jabar. Dan para pengurus akhinya menyadari bahwa sepakbola bisa mengharumkan daerah. Maka PSGC Ciamis bangkit sehingga kini sejajar dengan klub besar lain. (darfm)

LEAVE A REPLY