Siapakah Mujahid Cilik Ciamis yang Menerima Wakaf Warung Ayam Betujak?

0
BERBAGI

CIAMIS: Siapakah mujahid cilik Ciamis yang menerima wakaf Warung ayam Betujak? Dia adalah santri Ponpes Miftahul Huda II Bayasari, kecamatan Jatinegara Kabupaten Ciamis. Namun pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Huda II KH Nonop Hanapi tidak bersedia mempublikasikan nama mujahid cilik itu.

“Pak Sugiyono memang sudah datang ke pesantren tapi kami sepakat tidak mempublikasikan santri kami. Ini juga berdasarkan kesepakatan dengan pak Sugiyono,” kata KH Nonop Hanapi.

Dalam akun facebooknya Sugiyono Supriyadi menulis: bismillah..untuk para fihak..mohon tidak lagi bersepekulasi mengenai mujahid cilik ciamis..kami telah sepakat untuk tidak mempublikasikan..urusan waqaf rumah makan sepenuhnya akan diurus oleh pak yai Nonop Hanafi…

Baca: Kiprah KH Nonop Hanapi, Inisiator Aksi Jalan Kaki Umat Islam Ciamis

Mujahid Cilik Ciamis Itu Ternyata Santri Ponpes Miftahul Huda II

Sugiono datang ke Ciamis Minggu (04/12/2016) pertemuan tertutup itu hanya dihadiri Sugiono dan KH Nonop Hanapi serta beberapa pengurus pesantren, kepada KH Nonop, Sugiyono mengaku terenyuh melihat kiprah mujahid cilik yang ikut jalan kaki ke Jakarta untuk mengikuti aksi bela Islam III.

Kiprah para mujahid cilik itu memang diunggah beberapa akubn facebook dan menjadi viral. Caption fotonya sangat menyentuh hati, jalan kaki untuk menggantikan ayah yang sudah almarhum. Dan pada 3 Desember Supriyadi yang juga alumnus Jurusan Tafseer di University Al-Azhar Kairo Mesir itu menulis:

bismillahirrahmanirrahim…
dengan ini saya bermaksud mewakafkan satu cabang mayam betujak lengkap dengan alat panggang,di kota ciamis, untuk satu orang mujahid ciamis yang paling kecil, mohon bantu sampaikan niat saya ke anak tersebut.

Seperti diberitakan sebelumnya yang membuat banyak orang terharu, bahwa seorang santri kecil berusia delapan tahun, terlihat ikut berjalan bersama rombongan. Tanpa alas kaki, mengatupkan kedua telapak tangan dan menggigil kedinginan diguyur hujan. Ia menggantikan almarhum bapaknya untuk ikut aksi 212 di Monas. Sandalnya putus karena menempuh perjalanan beratus kilometer. Seorang ibu yang melihatnya kemudian memberinya sandal baru, pakaian kering serta jas hujan untuk mengganti pakaian santrinya yang basah kuyup.

Kisah ini menjadi viral di sosial media yang kemudian mengetuk hati seorang pengusaha rumah makan asal Riau untuk mewakafkan salah satu cabang rumah makannya untuk anak tersebut. (idr)

LEAVE A REPLY