Wisata Ziarah ke Dayeuhluhur Jangan Pakai Baju Batik

SUMEDANG: Bulan Rabiul Awal atau bulan Mulud sering dijadikan sebagai bulannya untuk wisata ziarah. Di Sumedang ada sejumlah lokasi ziarah yang kerap dikunjungi wisatawan. Salah satunya adalah Dayeuhluhur. Dayeuh Luhur dua suku kata bahasa Sunda, yaitu Dayeuh dan Luhur. Artinya dalam bahasa Indonesia, Dayeuh Kota dan Luhur artinya Tinggi, jadi Dayeuh Luhur adalah kota di daerah (dataran) tinggi.

Lokasinya berada di Kecamatan Ganeas atau sekitar 3 Kilometer dari Pusat Kota Sumedang ke arah Wado. Untuk sampai di lokasi tersebut bisa menggunakan sepeda motor atau kendraan roda empat. Tapi dengan syarat mobil atau motornya harus yang sehat, karena jalanya sangat terjal. Kondisi jalan berkelok dan menanjak. Meski medannya cukup berat sepanjang perjalanan kita akan disuguhi pemandangan alam yang menakjubkan. View waduk Jatigede yang mempesona juga bisa dilihat dari ketinggian Dayeuhluhur.

Lantas ada apa saja di Dayeuhluhur, Para wisatawan yang datang ke Dayeuhluhur mengaku datang jauh-jauh ke Dayeuhluhur untuk ziarah ke tiga makam. Memang di Dayeuhluhur ada 3 makam raja Sumedang yakni makam Prabu Geusan Ulun, Makam Ratu Harisbaya, dan Makam Pangeran Rangga Gempol I. Makam Pangeran Rangga Gempol I merupakan makam pindahan dari Yogyakarta pada tahun 1998. Ketiga makam itu adalah raja-raja Sumedang Larang.

Selain tiga makam itu ada patilasn Mbah Jaya Perkasa atau Mbah Jaya Perkosa. Tapi lokasinya agak jauh dari ketiga makam tersebut. Harus menapaki ratusan anak tangga dengan jalan menanjak. Meskipun demikian bagi para peziarah hal itu sangat mengasyikan, beberapa peziarah mempercayai perjuangan menuju patilasan akan diganti dengan berkah dari Mbah Jaya Perkosa.

Mbah Jaya Perkasa adalah salah seorang dari empat utusan Kerajaan Padjajaran (Kandaga Lante) yang menyerahkan mahkota Binokasih dan pusaka Kerajaan Padjajaran kepada Prabu Geusan Ulun, raja Sumedang. Prabu Geusan Ulun memang dipercayai sebagai penerus kerajaan Sunda dan mewarisi daerah bekas wilayah Pajajaran. Karena kesaktiannya Mbah Jaya Perkasa diangkat menjadi patih kerajaan Sumedang Larang. Yang menarik wisatawan tak boleh memakai baju atau memakai apapun yang bercorak batik.

Mungkin tidak semua orang tahu mengapa Mbah Jaya Perkasa sampai melakukan ritual  di Dayeuh Luhur. Konon Mbah Jaya Perkasa marah dan kecewa kepada Prabu Geusan Ulun karena setelah pulang berperang melawan Kesultanan Cirebon, Ibukota Kerajaan Sumedang Larang kosong dan tidak ada yang memberi tahu bahwa Ibukota telah dipindahkan ke Dayeuh Luhur.

Akhirnya Mbah Jaya Perkosa menyusul ke Dayeuh Luhur dan bertemu dengan Prabu Geusan Ulun, lalu Mbah Jaya Perkasa marah dan meninggalkan Prabu Geusan Ulun sambil bersumpah tidak akan mau mengabdi lagi kepada siapapun juga. Mbah Jaya Perkasa berjalan ke puncak bukit sambil menancapkan tongkatnya, dan disitulah Mbah Jaya Perkasa moksa/tilem/ngahyang atau artinya menghilang.

Kawasan makam Prabu Geusan Ulun dan Ratu Harisbaya sangatlah sejuk dan ditumbuhi oleh pepohonan. Makam Prabu Geusan Ulun berada terpisah dengan makam Ratu Harisbaya. Selain itu di kedua makam tersebut terdapat tempat peristirahatan untuk para wisatawan yang ingin menginap. Di Dayeuh Luhur juga terdapat warung-warung yang menyediakan makanan, minuman, perlengkapan mandi, dan ziarah. Nah coba saja datang ke sini. (ign)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here