Tak Semua Bus Budiman Pasang Klakson Om Telolet

0
BERBAGI
om telolet

TASIK-Perusahan Otobis (PO) Budiman tak semua memasang klakson cadangan yang lagi demam Om Telolet. Namun demikian bebrapa sopir bus Budiman kerap diminta untuk membunyikan Om tolelet. Kenapa belum dipasang? Sebab harga klakson itu cukup mahal yakni mulai dari Rp 1,5 juta sampai Rp 3 juta.

“Perusahan tak menganjurkan untuk beli klakson itu, jadi kalau mengeluarkan uang sendiri ngak mungkin lah,” kata Asep Setiadi kondektur PO Budiman Jakarta-Tasik.

Asep mengakui pernah ditawari oleh pehobi bus untuk memasang seperangkat klakson telolet, tapi belum dipasang karena menunggu persetjuan dari perusahaan. Tapi beberapa bus jurusan Pangandaran-Tasik ada yang memasang klakon Telolet. Asep mengatakan di sepanjang Tasikmalaya sampai Bandung banyak remaja yang meminta membunyikan klakson telolet. Mereka bergerombol di pinggir jalan dan berteriak, “Om Telolet Om”.

Asep mengaku tak merasa terganggu dengan remaja tersebut. “Senang saja. Bisa membuat anak-anak senang,” kata dia.

Biasanya, menurut Cahya, remaja tersebut sudah tahu jadwal bus telolet melintas. Jadi saat bus melintas, mereka sudah siap di pinggir jalan. “Mereka ada yang teriak dan bawa kertas (bertuliskan Om Telolet Om) seperti di kawasan Cicalengka dan Cileunyi,” katanya.
Demam ‘om telolet om’ juga memaksa perusahan PO Aladin Ciamis untuk memasang klakson cadangan tersebut. Pemilik PO Aladin Tatang A Kendar tak melarang soprinya untuk memasang klakson tersbut, namun perusahaan tak menyediakan dana untuk beli klakson itu,.

Salah satu sopir PO Budiman Jurusan Bandung-Puwokerto Abah Ayi mengaku g mengaku sering diminta membunyikan klaksonnya. Tak hanya saat berada di jalan, bahkan saat keluar dari pool pun sudah ada request membunyikan klakson. Tak hanya dirinya, ia menyebut setidaknya ada sepuluh bus di PO Budiman yang mempunyai klakson telolet.

“Banyak yang minta telolet, ada beberapa titik. Tapi sejak keluar pool saja sudah ada yang minta,” katanya pada wartawan.

Abah Ayi mengatakan kehadiran klaksonnya yang berbunyi telolet justru membawa dampak positif. Ia cenderung merasa bahwa klakson tersebut jadi pelepas lelah di jalanan.

Jadi senang kalau melihat anak-anak kegirangan setelah klakson dibunyikan.”Saya memang suka banget melihat anak-anak atau remaja yang kegirangan karena om telolet,” ujarnya.

Meski begitu, klakson yang digunakannya bukan dibeli dengan biayanya sendiri. Dia mengakui dengan harga klakson modifikasi yang cukup tinggi tentu tak sesuai dengan pendapatannya. Sehingga klakson yang saat ini digunakannya merupakan ‘hibah’ dari anggota pecinta bus komunitas Bus Mania.

“Klakson telolet ini dikasih sama penumpang yang anggota bus mania. Kalau beli sendiri lumayan juga harganya 3,5 juta,” ucapnya.(omd)

LEAVE A REPLY