Film Sang Singa Singaparna Kisah Keberanian KH Zainal Mustofa

sang singa singaparna

TASIK- Pengambilan gambar untuk film Sang Singa Singaparna di Pondok Pesantren Sukamanah Kabupaten Tasikmalaya menyedot perhatian publik. Film yang mengangkat kisah heroik KH Zainal Mustofa ini memang jadi kebanggan sendiri bagi warga Tasikmalaya. Singa artinya pemberani jadi pemberani dari Singaparna.

Rencananya pengambilan gambar akan berlangsung hingga 10 Januari. Film Sang Singa Singaprna ini dijadwalkan tayang di layar lebar pada 25 Februari 2017 bertepatan dengan mengenang perjuangan KH Zainal Mustofa ke-73.
Sedangkan lokasi shooting terpencar di sejumlah tempat di Kabupaten Tasikmalaya dan Kota Tasik. Lokasi syuting diantaranya di Pesantren Sukamanah, MAN Sukamanah dan Manonjaya. Pendopo lama Kabupaten Tasikmalaya di pusat kota Tasik juga dijadikan markas bupati Tasik saar era tahun 1942-1944.

Film garapan Sultan 21 Picture Present bekerja sama dengan Yayasan KH Zainal Mustofa ini mengambarkan betapa beraninya KH Zainal Mustofa melawan penjajah Jepang. Sutradara sekaligus penulis skenario, Abay mengatakan film semi kolosal ini mengangkat latar setting zaman penjajahan Jepang antara tahun 1942-1944. KH Zainal Mustofa menjadi tokoh agama yang keras melawan kebijakan Jepang untuk memberikan hormat pada matahari dan kaisar Jepang.

Yang menarik pemeran film itu melibatkan sejumlah tokoh di Kabupaten Tasikmalaya. Seperti Bupati Tasikmalaya Uu Ruzhanul Ulum memerankan Bupati Tasikmalaya saat penjajahan Jepang. Termasuk Ketua GP Ansor Kabupaten Tasikmalaya, Asep Muslim yang berperan sebagai santri kepercayaan KH Zainal Mustofa.

Berat Memerankan Sang Singa Singaparna

sang singa singaparna

Ali Zainal yang memerankan KH Zainal Mustofa mengaku sangat berat memerankan tokoh kharismatik kebanggaan urang Tasik.Ada beberapa kendala saat memerankan tokoh tersebut. Salah satunya adalah penggunaan bahasa dan sosok yang diperankannya.

“Saya jujur saat hari pertama shooting saya masih meraba-raba bagaimana figur beliau. Meski saya sudah mengumpulkan berbagai bahan tentang beliau tetap saja belum merasa pas,” ujarnya.

Ali dengan rendah hati bertawasul agar mendapat petunjuk dari Allah SWT agar lancar. Namun berkat dukungan keluarga besar Ponpes Sukamanah dan keluarga KH Zainal Mustofa, Ali akhirnya mendapatkan kekuatan. “Kita hanya membuat sebuah replika apa yang terjadi di masa lalu untuk kita wujudkan di masa kini dengan tujuan untuk mengenalkan kepada anak-anak sekarang bahwa mereka mempunyai sosok pahlawan yang di idolakan,” katanya.

Ketua GP Ansor Kabupaten Tasikmalaya Asep Muslim yang yang memerankan sanri sang singa dari Singaparna KH Zainal Mustofa mengaku bangga dilibatkan. Dalam film itu dikisahkan Asep Muslim dan tiga Santri Sukamanah hanya menggunakan Bambu Kuning. Bambu yang sudah dido’akan memiliki tuah itu begitu ampuh melumpuhkan Tentara Jepang yang datang Sukamanah.

Dari perkelahian tersebut, empat Samurai dan Senjata Tentara Jepang dirampas. Kemudian diamankan untuk antisipasi jika datang penyerangan.

Ada empat orang Jepang kesini. Mereka memaksa agar Kiai kami dibawa ke Kota Tasikmalaya,” kata Asep.

Meski demikian, perkelahian dengan Tentara Jepang itu bukan kejadian sebenarnya. Melainkan dalam adegan laga di Film KH Zainal Mustofa yang mengambil gambar di Pondok Pesantren Sukamanah.

Asep berperan sebagai salah satu Dewan Perang Pasukan Kh Zainal Mustofa bernama Kiai Domon. Pengambilan gambar Film Heroik dengan Judul Sang Singa Singaparna ini akan berlangsung sampai 10 Januari 2017.

Datangnya Tentara Jepang (Konpetai) ke Sukamanah, ujar Asep, karena telah mendengar bahwa KH Zainal Mustofa sudah melakukan dakwah-dakwah perlawanan yang menyulut emosi Santri melawan Jepang.

(ridwan fauzi) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here