Ini Dia Sinopsis Film Sang Singa Singaprna

singa singaparna

TASIK- Pimpinan Pondok Pesantren Sukamanah Singaparna Tasikmalaya dan para santrinya disiksa dan dipenjara pemerintah Jepang. Ratusan santri meninggal. Kebengisan tentara Jepang itu tergambar dalam film Sang Singa Singaparna yang sedang melakukan syuting.

Film yang diproduksi Sultan 21 Picture Present ini dijadwalkan tayang di layar lebar pada 25 Februari 2017. Sebanyak 100 santri Ponpes Sukamanah dan Sukahideng dilibatkan. Beberapa tokoh Tasikmalaya termasuk bupati juga ikut main dalam film sejarah tersebut.

Aktor utama Ali Zainal sebagai pemeran KH Zainal Mustofa mengaku sangat berat memerankan tokoh kharismatik tersebut berkali-kali dia bertawasul kepada almarhum agar dilanjacarkan.

Dalam film tersebut digambarkan bagaimana keberanian Sang Singa Singaparna KH Zainal Mustofa melawan penjajah Jepang.
Perjuangan KH Zaenal Mustofa bermula ketika semua alim ulama atau para ajengan di sekitar Singaparna Tasikmalaya harus berkumpul di Alun-alun Kota Singaparna.

Dibawah todongan senjata para ajengan itu harus hormat ke arah Tokyo atau seikerei. Karena takut, para ajengan itu termasuk Kiai Rukhiyat Pendiri Pesantren Cipasung menuruti perintah itu. Hanya K.H. Zaenal Mustofa-lah yang tetap membangkang. Sang Singa Singaparna punya keyakinan perbuatan itu musyrik (Menyekutukan Tuhan). ”Lebih baik mati ketimbang menuruti perintah orang-orang Jepang,” katanya.

Sejak saat itu dia menabuh genderang perlawanan terhadap Jepang. KH Zainal Mustofa tidak tahan melihat penderitaan rakyat. KH.Zainal Mustofa bersama para santrinya merencanakan gerakan tanggal 25 Februari 1944 (1-Maulud 1363 H). Persiapan melawan Jepang direncanakan dengan matang. KH Zaenal Mustofa meminta para santrinya mempersiapkan bambu runcing dan golok, serta berlatih memperdalam Ilmu pencak silat.

Kiai Haji Zainal Mustofa juga sempat membekali santri dengan latihan spiritual (tarekat) seperti mengurangi makan (puasa sunnah),mengurangi tidur, dan membacakan wirid-wirid Dzikir (bacaan-bacaan Unsur Mengesa-kan Tuhan) untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Pencipta Alam.
Persiapan perang melawan Jepang ternyata tercium. Jepang lantas mengirim utusan dan Camat Singaparna disertai 11 orang stafnya. Ternyata kedatangan mereka ke Pesantrean untuk menangkap KH Zainal Mustofa. Perintah agar KH Zainal Mustofa menyerah dan mau menghadap Pemerintah Jepang ditolak. Penolakan yang sangat tegas itu memancing keributan. Dan keempat opsir itu tewas. Salah seorang santri bernama Nur korban (Syahid) tewas terkena tembakan salah seorang opsir Jepang.

Kontan saja kejadian itu memicu kemarahan pemerintah Jepang, sore harinya sekitar pukul 16.00 truck tentara Jepang yang sempat mendekati garis depan pertahanan Sukamanah. Komando Suara takbir mulai menggelegar terdengar, pasukan Sukamanah sangat terkejut ketika itu , setelah yang tampak dihadapan Mereka tersebut ternyata adalah bangsanya sendiri.

Rupanya tentara Jepang “Laknat” itu telah mempergunakan taktik adu domba dan sempat menghasut bangsa Kita sendiri yang harus memberangus Perjuangannya sang Singa dari Singaparna tersebut.

Terkabarkan sudah yang Terjadi ketika itu sebuah peristiwa yang digambarkan Kejadian Amat heroic, Ratusan santri Sukamanah terlibat dalam pertempuran dan perkelahian jarak dekat. Namun dua kekuatan itu jelas tidak seimbang, Senapan mesin, pistol, dan granat pasukan Jepang yang dipakai Oleh Bangsa Kita yang terhasut Politik Adu Dombanya Tentara Jepang “Laknat” tersebut berhadapan dengan pasukan yang dipimpin Oleh Singa-nya Singaparna (KH Zaenal Mustofa) yang hanya bersenjatakan bambu runcing, pedang bambu, dan batu.

Hanya dalam waktu sekitar satu setengah jam saja, pertempuran itu berakhir dengan sangat tragis. Para santri yang dipimpin Oleh KH.Zainal Mustofa banyak yang gugur dalam pertempuran tersebut Mereka dinyatakan Mati Sahid (Syuahada) berjumlah 86 orang.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here