Inilah Sindrom Penyakit Teraneh yang Bisa Menimpa Anda

0
5 views

FOKUSJabar.com: Kesehatan merupakan aspek penting manusia untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Dengan kesehatan yang baik, seseorang akan mampu melakukan aktivitas produktif sebagai upaya untuk mempertahankan hidup dan mewujudkan cita-cita. Fisik atau jasmani dan psikis atau rohani, adalah dua faktor yang tidak dapat dipisahkan dalam mewujudkan kesehatan yang prima. Jika salah satu dari faktor tersebut terganggu, maka kondisi kesehatan seseorang tidak dapat dikatakan baik.

Sindrom-Aneh
Ilustrasi (WEB)

Untuk tetap berada dalam kondisi prima, setiap orang tentunya dituntut untuk melakukan pemeliharaan kesehatan. Bentuk dari upaya pemeliharaan kesehatan, sebenarnya tidak harus berupa rutinitas pemeriksaan medis. Namun yang terpenting adalah pola hidup sehat seperti makanan yang dikonsumsi serta rajin berolahraga. Jika pemeriksaan medis rutin dilakukan namun tidak ditunjang oleh pola hidup sehat, upaya pemeliharaan kesehataan tentu akan menjadi sia-sia.

Jika dicermati, sesuatu yang paling beharga dari kehidupan manusia adalah kesehatan. Tanpa kesehatan, mustahil manusia bisa melakukan sesuatu yang berguna bagi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, bahkan negara. Hanya saja banyak orang yang tidak menyadari teori tersebut. Biasanya, seseorang baru menyadari betapa berharganya hidup sehat adalah ketika sedang sakit. Nah, tahukah Anda pembaca tawboy.com, di dunia ini ternyata ada sejumlah sindrom teraneh yang mengancam kesehatan raga dan rohani Anda. Apa saja itu?Berikut ulasannya?

Morgellons Disease

Ini adalah penyakit yang tidak bisa dengan mudah dipahami. Sebab, penyakit ini seperti tidak nyata terjadi. Banyak dokter beranggapan jika penyakit ini hanya berupa gangguan mental saja. Penderita morgellons biasanya merasa gatal, digigit serta merasa seperti ada sesuatu yang merangkak di permukaan kulitnya. Bahkan jika sudah dianggap parah, penderitanya melihat seperti ada serat tumbuh keluar dari kulit mereka. Menurut Morgellons Research Foundation, penderita juga mengalami ruam pada kulit, kelelahan, dan terganggu memorinya.

Belum ditemukan penyebab dari penyakit ini. Pihak centers for disease control and prevention mulai menyelidiki Morgellons pada tahun 2008 lalu. Beberapa dokter menganggap penyakit ini termasuk gangguan mental. Kendati demikian, ada juga para ahli dari Mayo Clinic yang menyebutkan Morgellons adalah penyakit kulit. Yang membuat kondisi menjadi aneh, bagi pasien morgellons, penyakit kulit yang mereka derita sangat nyata dan bukan bagian dari imanjinasi atau akibat pengaruh obat serta alkohol. Sensasi kulit yang dialami penderita Morgellons juga bisa terlihat karena seperti luka gatal. Bahkan warnanya berubah-ubah, mulai dari biru, hitam dan merah.

Penderita penyakit ini pertama kali diakui pada tahun 2002, ketika Maty Leitao, seorang ibu yang melihat tanda-tanda Morgellons pada anak laki-lakinya. Saat itu, anak laki-laki Mary Leitao memiliki berbagai luka ruam dan mengeluhkan sakit di seluruh kulitnya. Namun pada saat diperiksa secara medis, sang dokter tidak menemukan sesuatu yang salah atas kondisi anak tersebut.

Alien Hand Syndrome

Kondisi kesehatan yang satu ini bisa dibilang lebih aneh lagi. Menurut deskrepsi dalam artikel di jurnal Archives Of Neurology tahun 2004, sindrom ini membuat penderita meraih dan memegang sebuah benda tanpa ada perintah dari dirinya sendiri.

Kondisi ini tentunya sangat membahayakan. Tidak hanya untuk si penderita, namun juga orang yang ada di sekitarnya. Jika tidak diawasi dan dicermati, penyakit atau kondisi kesehatan Alien Hand Syndrome bisa memakan korban jiwa.

Seperti pada tahun 1998 dilaporkan ada seorang wanita berusia 81 tahun yang tangannya bergerak tak terkendali. Tangan kirinya mencekik leher, memukul wajah dan leher tanpa disadari. Wanita tersebut juga memiliki masalah sensorik dan visual. karena begitu menakutkan dan membingungkan, banyak orang yang membuat kesimpulan aneh-aneh atas kondisi ini. Ada yang menyebutkan jika gerakan tangan tanpa sadar tersebut dikendalikan oleh roh lain. Ada juga yang menyebutkan dikendalikan oleh mahluk ruang angkasa atau alien.

Dalam Journal Of Disease Stroke And Cebrovascular tahun 2009 lalu disebutkan, stroke pada lobus otak kanan diduga menjadi penyebab Alien Hand Syndrome. Semua dapat bergerak sendiri tanpa perintah, mayoritas menimpa tangan, tapi beberapa menimpa kaki penderita.

Cotard’s Syndrome

Seperti dijelaskan European Journal Of Neurology tahun 2004 lalu, Cotard’s Syndrome adalah kondisi kesehatan langka yang membuat seseorang percaya jika dirinya sudah mati atau bagian tubuhnya ada yang membusuk. Sindrom ini sering dijumpai pada penderita skizofrenia. Namun demikian ada juga penderita migrain, tumor dan trauma yang juga pernah dilaporkan terkena Cotard’s Syndrome. Nama sindrom ini beral dari Dokter Jules Cotard, ahli syaraf yang pertama kali menginduksi hilangnya sel-sel otak pada hewan.

Seperti gangguan bipolar atau skizofrenia, cotard adalah bentuk lain delusi psikosis. Mereka dengan kondisi ini sering menggambarkan kehilangan darah, organ atau bagian tubuh. Realitas distorsi ini disebabkan oleh kerusakan di daerah otak yang disebut Gyrus Fusiform. Kerusakan ini mengenali wajah dan juga di amigdala, suatu set berbentuk almond neuron yang memproses emosi seseorang.

Kombinasi tersebut adalah kurangnya pengakuan saat melihat wajah-wajah penderita, Meninggalkan perasaan orang yang terputus dengan realita. Hingga saat ini, para ilmuwan belum menemukan obat untuk Syndrome Cotard. Namun demikian, para ahli dan pakar medis terus berusaha mengobati gejalanya.

Ehlers-Danlos Syndrome

Ehlers-danlos syndrome atau eds adalah sekelompok kelainan bawaan yang melemahkan jaringan ikat. Jaringan ikat sendiri adalah protein yang mendukung kulit, tulang, pembuluh darah dan organ lainnya. Eds biasanya mempengaruhi kulit seseorang, sendi dan pembuluh darah. Gejala dari penderita ini adalah longgar persendian. Orang dengan eds memiliki kemampuan menekuk kaki ke arah yang tampaknya mustahil. Menurut Genetics In Medicine tahun 2010, penderita sindrom ini juga memiliki kulit super elastis. Sayangnya, penderita eds mudah memar dan lambat dalam penyembuhannya.

Setengah dari penderita eds memiliki mutasi col5a1 dan col5a2 pada gen mereka. Satu dari 5.000 orang diperkirakan menderita sindrom ini. Seperti disebutkan jurnal Genetics Medicine, ada delapan mutasi yang diketahui berhubungan dengan ehlers-danlos syndrome. Mutasi gen itu juga mengarah pada berkurangnya jumlah kolagen dalam jaringan ikat penderita.

Hingga saat ini belum ada obat khusus untuk ehlers-danlos syndrome. Hanya saja, pengobatan melibatkan gejala cara mengelola cedera serta terapi fisik. Ini juga mencakup belajar bagaimana melindungi sendi dan mencegah cedera. Resiko bahaya penderita eds ini tergantung pada individu masing-masing. Tingkat keparahan dari mutasi dapat bervariasi dari ringan sampai mengancam nyawa. Nama sindrom ini berasal dari dua dokter yaitu Edvard Ehlers dari Denmark dan Henri Alexandre Danlos dari Perancis. Keduanya merupakan dokter yang mengidentifikasi sindrom tersebut.

Urbach-Wiethe Disease

Kelainan atau kondisi kesehatan aneh lainnya adalah urbach-wiethe disease atau ketidakmampuan seseorang merasakan ketakutan. Menurut jurnal current biology pada tahun 2010, kelainan genetik tersebut menyebabkan pengerasan jaringan. Ada sebuah kasus mengenai wanita yang menderita penyakit ini. Wanita tersebut ditemukan tinggal di rumah berhantu dengan ular dan laba-laba hidup. Namun wanita tersebut tidak menunjukkan apapun mengenai hal-hal menakutkan tersebut.

Penyakit ini juga disebut lipoid proteinosis atau penyakit resesif yang dapat mempengaruhi amigdala. Pasien dengan penyakit ini sering hadir dengan suara serak. Hampir semua jaringan di dalam mulut akan memiliki plak putih kecil yang memburuk dari waktu ke waktu. Plak dapat menyebabkan lidah membengkak dan membuah pasien kesulitan menjulurkan lidah ke luar. Pasien juga menjadi lebih rentan terhadap infeksi kulit seperti impetigo.

Siebert, Markowitsch dan Bartel, pada tahun 2003 lalu mengamati 10 pasien dengan urbach wiethe dan melakukan satu percobaan yang melibatkan tes asosiasi bau angka. Para peneliti berhipotesis bahwa amigdala sangat telibat dalam sistem penciuman. Pasien dengan penyakit tersebut akan belajar asosiasi sehingga menghubungkan memori emosional amigdala. Pasien belajar untuk mengasosiasikan bau jeruk, apel, lemon, kayu manis, peppermint dan vanili, dengan angka kosong melalui ujicoba belajar.

(RUD)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.