Orang Tasik Sukses Bisnis Rumah Makan Sunda di Bali

0
10 views

 

TASIKMALAYA, JP.COM- Rumah Makan Sunda di Bali. Ya ada orang Tasikmalaya Jawa Barat yang sukses bisnis kuliner di Bali. Namanya H Endang, dulu profesinya adalah pedagang atau kebanyakan tukang kiridit (menjual barang dengan cara dicicil). Saking tingginya naluri bisnis urang Tasik, banyak yang menyebut Tasik sebagai “orang Padang” dari Tatar Sunda.

Memang benar Orang Tasik bertebaran di berbagai pelosok tanah air, bahkan luar negeri. Beragam profesi mereka jalani, dari tukang kiridit keliling, pedagang kerupuk, pengusaha kain, rumah makan, hingga pengusaha transportasi. Makanya jangan heran saat Lebaran mereka pulang kampung lengkap dengan cerita kesuksesaanya. Salah seorang urang Tasik yang sukses di perantauan adalah H. Endang Saeful Ubad (58), Pria Asal Rajapolah ini sukses mengembangkan bisnis kuliner di Bali.

Salah satu outlet-nya yang cukup dikenal adalah Food Theatre, rumah makan yang
mengambil lokasi di lingkungan Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana (GWK).
Setiap orang yang berkunjung ke GWK, seolah “wajib” bertandang ke rumah
makan Haji Endang. “Setelah lelah, lapar, dan haus sehabis jalan-jalan di
GWK, para turis pasti mampir ke warung saya untuk makan atau minum,” kata
Haji Endang membuka percakapan.

Uniknya, Haji Endang menciptakan suasana rumah makannya sangat khas dan
kental dengan atmosfer Sunda. Menu, misalnya, semuanya serba Sunda seperti
nasi timbel komplet plus lalab, sambal, dan sayur asem, batagor dan siomay
Bandung, hingga minuman es cendol, cingcau, es Pak Oyen, hingga kelapa muda
campur gula merah.

“Saya sengaja bawa tiga juru masak dari Tasikmalaya. Mereka saya pilih
karena sudah berpengalaman di rumah makan dan jago masak masakan Sunda. Itu
sengaja saya lakukan karena yang saya jual adalah masakan Sunda, maka juru
masaknya harus paham betul dengan menu masakan Sunda,” katanya.

Demikian pula dengan pelayan, semua berasal dari Sunda. Menurut Haji Endang,
hal itu dilakukan dengan beberapa pertimbangan. Jika kebetulan turisnya
orang Sunda, akan tercipta keakraban antara karyawannya dan konsumen lewat
komunikasi menggunakan bahasa Sunda. Sementara itu, jika turisnya bukan dari
Sunda, melainkan ingin makan menu khas Sunda, akan merasa yakin karena yang
memasaknya orang Sunda.

“Bagaimana pembeli atau konsumen mau percaya kalau kita menyajikan masakan
Sunda, sementara pelayannya saja tidak mengerti bahasa Sunda. Bukan soal
primordial, melainkan ini mah murni demi kepentingan bisnis,” ujar pria yang
mengutamakan aspek kehalalan dalam setiap produk pangan yang dijualnya. “Ini
urusan dunia dan akhirat. Apalagi, saya tahu konsumen saya sebagian besar
pasti Muslim,” kata pengusaha yang memulai bisnis di Bali tahun 1989 sebagai
pemasok boneka dari Cijerah dan Babakan Sukamulya, Holis, Bandung.

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika suasana di Food Theatre yang
letaknya persis di depan pintu masuk ke Taman Budaya GWK, layaknya rumah
makan Sunda di Tatar Priangan. Celoteh dan kalimat khas seperti “Geuning di
Cianjur,” “Geuning dulur keneh,” atau “Asa dahar di lembur sorangan,” pun
berhamburan. Kadang-kadang keluar kata-kata takjub, “Ini di Bandung atau di
Bali? Kok ngomongnya Sunda semua.”

Ternyata, Haji Endang tak hanya mengelola rumah makan di GWK. Ia juga
membuka bisnis serupa di dua tempat strategis lainnya di Pulau Bali, yakni
di depan Joger Pantai Kuta dan food court Kuta Galeria. Sama seperti di GWK,
dua outlet itu pun menonjolkan ciri khas kesundaan. “Khusus untuk outlet di
Kuta Galeria, saya juga menjual oleh-oleh khas Bandung,” kata H. Endang,
yang untuk mengelola tiga rumah makannya mempekerjakan empat belas karyawan. (berbagai sumber/muht)
rumah-makan-sangkuriang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.