Pantangan Sumedang

  • Whatsapp

Sumedang – Petinggi (Bupati) Sumedang, dalam sejarah ada pantangan untuk melaksanakan Salat Id di dalam Kota Sumedang pada hari Jumat, hal tersebut merupakan kebiasaan turun menurun leluhur Kota tahu ini. Pantangan ini berkaitan dengan kejadian zaman dulu kala yang menimpa Sumedang, hal ini dikatakan Kepala Museum Geusan Ulun Sumedang, Mohamad Achmad Wiriatmadja.

Empat abad silam, Pangeran Panembahan yang memimpin kerajaan Sumedang diserang pasukan Kesultanan Banten seusai melaksanakan salat Idul Fitri. Kesultanan Banten menyerang Sumedang karena ingin memperluas wilayah dan pengaruh ke wilayah timur.Peristiwa tersebut terjadi pada 18 November 1678, di pusat kerajaan Sumedang yang ketika itu berada di daerah Tegalkalong. “Pangeran Panembahan selamat, tapi keluarganya ada yang tewas,” katanya.

Muat Lebih

Pasca peristiwa serangan tersebut, Pangeran Panembahan memberlakukan pantangan yang berlaku sampai sekarang. Siapa pun pemimpin Sumedang, dilarang melaksanakan salat Id di pusat kota. “Pantangan itu sekaligus menjadi peringatan atau hari berkabung atas peristiwa serangan yang menjatuhkan ibukota Sumedang,” kata Achmad.

Memang pada umumnya orang akan melaksanakan Salat Idul Fitri di masjid/lapangan dekat rumah, namun kondisi ini tidak berlaku bagi Bupati Sumedang. Pasalnya, ia dilarang melaksanakan Salat Idul Fitri di dalam Kota Sumedang.
Jika akan melaksanakan Salat Idul Fitri, bupati harus mencari lokasi yang jauh dari Sumedang. Apabila sang bupati tetap nekat shalat Idul Fitri di dalam kota, maka akan ada musibah yang menimpa Sumedang atau keluarganya.

Ia pun melanjutkan, jika pantangan dilanggar, dipercaya bakal ada musibah atau kecelakaan yang menimpa daerah Sumedang atau pimpinan daerah dan keluarganya. Namun, setelah selesai salat Id di luar kota, pimpinan daerah dan keluarganya bisa kembali ke kediaman di pusat kota untuk bersilaturahmi dengan kerabat dan warga setelah sembayang Id. _****_

Pos terkait