Menelusuri Bisnis Esek-Esek di Kota Tahu Sumedang

Praktik prostitusi selalu menarik untuk diungkap. Penyakit masyarakat ini memang tak hanya terjadi di kota besar. Di kota kecil Sumedang Jawa Barat pun ada bisnis esek-esek. Percaya atau tidak, bisnis yang menjual kenikmatan sesaat itu sudah melibatkan kalangan pelajar dan mahasiswa.

Tim investigasi jepe.com berhasil menelusuri bisnis tersebut

TAK mudah memang untuk membuktikan praktik lender ini. Sebab, umumnya bisnis esek-esek memang berlangsung tertutup. Mereka beraksi dari ruangan yang sempit seperti di warung remang-remang atau kios di salah satu pojok jalan sempit. Apalagi sekarang zama canggih bisa kontak lewat handphone.
Di Sumedang praktik ini tersebar di Wado, Kawasan Jatigede dan kampus Unsap, Sumedang Kota. Mereka biasa nongrong di rumahan aksudnya, pelanggan bisa mengontak mamih dan ’main’ di luar.
Seorang rekan, mengajak jepe berkeliling Sumedang untuk menelusuri bisnis ini. Penelusuran berawal dari ujung Timur Sumedang, di daerah Wado. Di kecamatan yang berbatasan dengan Malangbong, Kabupaten Garut ini ternyata ada PSK-nya.
Informasi ini berawal dari Dani -nama samaran-, salah seorang bikers yang menguasai betul tentang seluk beluk bisnis esek-esek di Wado. Kepada koran ini, Dani mengatakan, perempuan di bilangan Wado ini tinggal di sebuah rumah dekat kawasan Pasar Wado. Kalau perlu tinggal calling.
Memang benar, setelah memasuki rumah itu koran ini menemui seorang perempuan yang mengenakan celana pendek. Perempuan paruh baya yang biasa dipanggil Mamih itu terlihat familiar. Dia pun menyambut hangat. Saat itu memang ada beberapa perempuan berbaju seksi.
Apakah bisa diajak ’main’? ”Bisalah. Tapi, harus dibawa ke luar. Bisa ke hotel atau tempat yang aman,” kata sang mamih sambil menghisap sebatang rokok filter yang terselip di antara jemarinya. Tapi belakangan bisa juga main di rumahnya asalkan jelas bayarannya.
Mengenai tarifnya, dari kisaran Rp 40 ribu hingga Rp 75 ribu. Itu bergantung dengan kondisi sang perempuan. Jika dilihat, umur perempuan itu antara 27 hingga 33 tahun. ”Tapi, mereka ini banyak dipakai sopir. Sebab umurnya banyak yang sudah tua. Kebanyakan berasal dari luar Wado,” kata Mamih.
Mamih menambahkan, PSK yang ada di Wado biasanya berasal dari kampung. Statusnya kebanyakan janda yang ditinggal cerai atau mati suaminya. Sebab, tak tahan dengan kondisi ekonomi yang terus-terusan terhimpit, akhirnya terpaksa melacurkan diri.
”Sebenarnya saya sudah nggak mau lagi ngurus yang beginian, tapi karena kasihan ya terpaksa ditampung saja,” katanya sambil mengisap kembali rokok.
Memang PSK di Wado penampilannya pas-pasan. Dandannya agak norak. Namun mereka mengaku siap bersaing dengan PSK-PSK di kota.
”Biar penampilannya kampung tapi servisnya oke,” kata Mami berpromosi.
Dia pun lalu memanggil Santy -nama samaran-. Usianya sekitar 33 tahun. Bodinya montok. Dia agak menor dengan make up tebal. Memakai T-Shirt ketat dengan membiarkan bagian perut terbuka. Memang kulitnya tak terlalu putih, namun tampak mulus.
Tanpa malu-malu, dia langsung duduk di samping koran ini. Gayanya sengaja dibuat sedemikian seksi untuk menarik lawan jenisnya. Tanpa canggung, ia pun lantar mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
”Nama saya, Santy,” katanya wanita yang postur tubuhnya agak pendek ini. Tak lama kemudian, wanita yang saat itu mengenakan baju lekbong berwarna hitam dikolaborasikan dengan celana jins ketat itu kembali ke dalam untuk mengambil beberaga gelas air.
Rupanya, ia baru tiga bulan ada di Wado dan terjun ke bisnis tersebut. Wajahnya memang tak terlalu cantik, hanya manis. Tak jarang, lenggak-lenggok tubuhnya ketika berjalan mengundang perhatian Kaum Adam untuk menggodanya.
Apalagi, senyum manis yang dilemparkan dari bibirnya dan tubuhnya yang bohai alias bodi aduhai tak jarang membuat laki-laki klenger. Ia tak segan-segan mendekati lelaki yang menggodanya, baik di luar maupun di dalam rumah.
Santy mengaku berasal dari Kuningan. ”Ya biasalah, masalah klasik yang membuat saya terjun ke dunia esek-esek,” terang wanita yang posisi duduknya mengangkang ini.

baca juga; Praktik seks di Bendungan Jatigede
Sebelumnya, Shanty hidup serbakecukupan. Namun, sejak suaminya meninggal dua tahun lalu, kehidupan keluarganya turun drastis. Ditambah, anak sulungnya yang mengalami kecelakaan, hingga harus membutuhkan dana yang tidak sedikit.

”Ketika anak pertama saya kecelakaan dari motor, saya membutuhkan uang sekitar Rp 780 juta. Dana itu dibutuhkan untuk mengganti tempurung kepala anak saya yang hancur gara-gara kecelakaan sepeda motor,” terangnya.

Dari situ, lanjut dia, Santy harus pontang-panting mencari biaya demi kelangsung hidup anak pertamanya itu. Hingga akhirnya, ia pun terjun ke dunia hitam.

”Saya punya tiga anak yang harus diberi makan, untuk kerja lain susah. Saya tahu kerja gini nggak pantas tapi mau bagaimana lagi,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here