Astagfirulloh..! Pasokan Narkoba untuk Jawa-Kalimantan dari Pabrik Sumpit di Kawalu

  • Whatsapp

KOTA TASIK – Fakta baru pabrik sumpit yang dijadikan pabrik pil psikotropika jenis PCC di Jalan Raya Syeh Abdul Muhyi, RT 4, RW 8, Kelurahan Gunung Gede, Kecamatan Kawalu Kota Tasik ternyata untuk memasok kebutuhan pengguna narkoba di Jawa dan Kalimantan.

Deputi Pemberantasan BNN Irjen Pol Arman Depari saat ditemui di Jakarta Rabu (37/11/2019) menyebutkan, pabrik obat – obatan terlarang itu  disamarkan jadi i pabrik sumpit atau copstick. Barang haram itu diproduksi di dalam satu ruangan tersembunyi.

Muat Lebih

“Di dalam ruangan yang tersembunyi diproduksi obat – obatan yang mengandung narkotika jenis PCC,” kata Arman kepada wartawan.

Dari hasil penggerebekan di tiga lokasi berbeda ini, polisi berhasil mengamankan sebanyak 1.500 000 pil PCC siap edar dan peralatan laboratorium berupa Mesin cetak atau pill press

“Serta Bahan – bahan baku siap cetak dan Bahan kimia cair dan padat,” ucapnya.

Rencanaya Pil PCC ini sedianya diedarkan diberbagai wilayah di Indonesia seperti Bali, Kalimantan dan beberapa kawasan di pulau Jawa.

“Rencana diedarkan ke daerah Kalimantan, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan Jawa Barat, katanya.

Sementara itu berdasarkan keterangan dari warga Kawalu  rumah tersebut baru disewa oleh orang-orang Sumpiuh, Cilacap Jawa Tengah pemilik pabrik sumpit tersebut berinisial Y, asal Sumpiuh, Cilacap, Jawa Tengah.

 

“Kalau yang ditangkap tadi itu Mas J suruhannya atau yang bertanggung jawab di sini di pabrik oleh pemiliknya Mas Y. Nah, kalau Mas Y sendiri jarang ke Tasik, dia orang Cilacap dan sebagai bosnya di pabrik sini,” ungkap Iyoy.

Dirinya bersama warga lainnya tak menyangka kalau rumah sebagai pabrik sumpit ini akan digerebek oleh BNN dan Kepolisian. Apalagi, dirinya pernah bertemu dengan dua orang yang diamankan tadi. “Enggak nyangka saja, soalnya tadi kirain bukan dari aparat,” ungkap dia.

Hal sama diungkapkan Nina (35), tetangga pabrik lainnya. Menurut dia, tiap harinya para pegawai pabrik yang berdomisili warga Tasikmalaya beroperasi seperti biasanya. Bahkan, selama ini, tak ada kecurigaan apapun terkait operasional terlarang lainnya selain lokasi pembuatan sumpit. “Kalau pegawainya yang sepuluh orang warga Tasikmalaya. Sedangkan orang yang dipercaya oleh pemiliknya yang tadi ditangkap semuanya orang Cilacap ada tiga orang,” pungkas dia.

Kini pabrik sumpit tersebut terlihat diamankan pihak Kepolisian setempat dan dipasang garis polisi. Sampai malam ini, belum ada pihak berwenang yang bisa dimintai keterangan oleh wartawan. Terlihat beberapa anggota Kepolisian masih berjaga di lokasi kejadian sampai berita ini diturunkan Selasa malam.

Perkembangan terbaru

Hingga pukul 09.45 WIB, tim BNN Pusat dibantu aparat gabungan masih melakukan persiapan gelar perkara tersebut sambil menunggu kedatangan Deputi Pemberantasan BNN, Irjen Pol Arman Depari yang sedang dalam perjalanan menuju lokasi.

Sedangkan di lokasi, lalu lintas kendaraan terpantau lancar. Walaupun demikian, hal ini menjadi tontonan warga dan para pengendara motor dan pengemudi mobil yang melintasi lokasi. Pasalnya, lokasi pabrik tepat berada di jalan raya.

Lurah Gunung Gede, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, Maman Suparman mengakui, pabrik tersebut ilegal karena tidak ada laporan apalagi izin lingkungan.

“Kami sudah mewanti-wanti kepada RT dan RW bila ada orang pindahan harus jelas administrasinya mulai KTP, KK, surat pindahan dan lainnya, semuanya harus jelas,” ujarnya kepada radartasikmalaya.com.

Diakui, Maman, selama dua tahun ini keberadaan pabrik sumpit tersebut tidak ada laporan kepada pihaknya. “Bahkan saya tanya RT dan RW juga tidak mengetahuinya. Jelas ini harus dijadikan pelajaran bagi para pengurus setempat termasuk para tokoh,”pungkasnya.

sumber:radartasikmalaya.com

Pos terkait