jurnalpriangan.com

Gali Makam untuk Syarat Ilmu Hitam Pernah Terjadi di Ciamis

kuburan dibongkar

kuburan dibongkar

BERITA TASIKMALAYA,JP.COM-Kasus gali kuburan diduga karena ilmu hitam ternyata bukan hanya terjadi di Desa Pakemitan, Kecamatan Cikatomas, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat Tapi di Kabupaten Ciamis hal serupa pernah terjadi. Pada tahun 2015 kuburan di Desa Jangraga, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat rusak, bedanya pelaku saat itu tertanngkap basah mencuri kain kafan. Sasaranya adalah kuburan yang kurang dari 40 hari.

Menurut Uun, sesepuh Desa Jangraga, penganut aliran ilmu hitam sering memburu kain kafan atau jari orang yang meninggal pada Jumat kliwon. Tujuannya, untuk ilmu kekebalan tubuh, pelaris, dan ilmu menghilang. Uun menambahkan, para pemburu jenazah lebih sering mengambil kain kafan dibandingkan jari orang yang meninggal. “Yang diambil itu boeh-nya (kafan),” kata Uun.

Kepala Desa Jangraga Engkos Kosim juga membenarkan kebiasaan warganya yang selalu menjaga kuburan, terlebih kuburan orang yang meninggal pada Jumat kliwon. Namun, menurut Engkos, warga yang meninggal tepat pada Jumat kliwon sangat jarang. Dalam lima tahun terakhir, hanya tiga orang yang meninggal pada hari itu.

Pencurian kafan Sinja menjadi misteri selama beberapa bulan hingga akhirnya salah seorang warga buka mulut. Entah mengapa warga yang tak diketahui namanya itu baru enam bulan kemudian melapor kepada Jojo, salah seorang polisi di desa itu. Jojo lantas membekuk Noni Murdani, yang juga warga Desa Jangraga dan diserahkan ke Kepolisian Sektor Padaherang, Ciamis. “Pas saya panggil itu Noni, iya, dia mengakui,” tambah Jojo.

Di kantor polisi, Noni mengakui dirinya terlibat dalam pencurian kain kafan. Dia mengaku diajak Anas, temannya yang hingga kini masih buron. Menurut Noni, dia sedang berada di sawah ketika diajak Anas untuk mencuri kain kafan Sinja yang meninggal pada Jumat kliwon. “Untuk ilmu menghilang, menurut si Anas,” kata Noni ketika ditanya alasannya mau menuruti ajakan Anas.

Selang empat hari kemudian mereka akhirnya sepakat untuk membongkar makam Sinja. Noni bertugas mengawasi keadaan saat Anas membongkar kuburan. “Saya mencangkul, Anas mencangkul. Tapi saya mah nggak lama, si Anas yang paling banyak,” kata Noni dengan logat Sunda yang kental.

baca juga: Ingin Kaya Pakai Ilmu Hitam, Makam di Cikatomas Tasik Dibongkar

Sejak pembongkaran makam, tersangka mengaku sempat sekali bertemu Anas. Saat itu, Anas mengajak Noni ikut ke dukun untuk menyempurnakan kain kafan yang sudah diambil agar dapat digunakan untuk ilmu hitam. Namun, ajakan Anas kali ini ditolak Noni. Itulah terakhir kali Noni bertemu Anas yang sampai saat ini tak diketahui keberadaannya. Hanya barang bukti kain kafan yang dapat disita polisi menyusul laporan warga yang menyatakan kain kafan itu dititipkan di daerah Lakbok, Jawa Tengah.

Noni Murdani adalah pemuda desa berusia 21 tahun yang tak punya pekerjaan tetap. Ibu Noni, Iis Aisyah mengaku tak menyangka anaknya bisa sejahat itu. Apalagi pria lulusan sekolah dasar itu tak menunjukkan tanda-tanda sedang mempelajari ilmu hitam. Bahkan, menurut perempuan berumur 38 tahun ini, Noni adalah anak pendiam. “Dia berani ke luar sama temen-temennya diajak,” tutur Iis.

Bagi keluarga korban, kejadian ini adalah pukulan berat. Eni Nurjanah, istri Sinja, mengaku terpukul akibat kejadian ini. Namun, di hati guru mengaji ini, tak sedikit pun terbersit perasaan dendam kepada para pelaku. Malahan Emi mendoakan agar mereka yang membongkar makam suaminya, dapat berubah menjadi orang yang lebih baik setelah kejadian ini. “Nggak dendam saya,” kata Emi yang saat ditemui sedang bekerja membelah sabut kelapa dan kayu bakar. (yudi)

sumber liputan6.com

Exit mobile version