Inilah Tiga Ulama Kharismatik Asal Tasikmalaya

  • Whatsapp
Ulama kharimatik di Tasikmalaya

TASIK, JURNALPRIANGAN.COM- Tasikmalaya dikenal sebagai kota. Hampir di setiap desa ada pesantrennnya. Keberadaan pesantren tak bisa dipisahkan dengan keberadaan ulama atau dalam bahasa Sunda Ajengan. Berikut ini adalah para ulama Kharismatik asal Tasikmalaya yang memiliki jaringan pesantren di seluruh Jawa Barat bahkan Indonesia. Mereka adalah.

1. KH. Muhammad Ilyas Ruhiat (alm) Pondok Pesantrean Cipasung

KH. Muhammad Ilyas Ruhiat adalah ulama Kharismatik yang sempat menjadi Rois Am PBNU. Lahir di  Cipasung, Singaparna Kabupaten Tasikmalaya  pada 31 Januari 1934. Ayahnya juga adalah  ulama besar di Jawa Barat yakni K.H. Ruhiat dan ibunya Hj. Aisyah.

Meski hanya mengecap pendidikan formal di sekolah Rakyat hanya tiga tahun, namun sejak kecil Ilyas tidak mau berhenti belajar. Semangat dan kegigihannya mempelajari segala hal, mendorong Ilyas mengambil kursus bahasa Arab dan Inggris.

Kecerdasaanya telah terlihat seja kecil. Pada usia 9 tahun saja sudah mampu menguasai kitab Jurumiyah (ilmu nahwu) dan pada usia 15 tahun telah menguasai kitab Alfiyah Ibnu Malik (Ilmu Sharaf yang dirakit dalam seribu bait syair).

Makanya ketika berusia 15 tahun Ilyas sering dipercaya menggantikan ayahnya untuk mengajar. Begitu juga saat ayahnya ditangkap Belanda, Ilyaslah yang menggantikan posisi sang ayah sebagai guru di pesantren tersebut. Selain aktif di Pesantren Ilyas pernah juga  aktif di NU. Dan pada tahun 1954 terpilih sebagai Ketua NU Cabang Tasikmalaya.

Saat itu pun ia merangkap sebagai Ketua Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa barat. Kemudian pada tahun 1985-1989 ia terpilih sebagai Wakil Rois Syuriah NU Jawa Barat.

Pada tahun 1989, saat muktamar NU di Krapyak, KH Ilyas menjadi salah seorang Rois Syuriah Pengurus Besar (PB) NU. Puncaknya,tahun 1994, pada muktamar ke-29 NU yang berlangsung di pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Ilyas terpilih sebagai Rois Am PB NU, mendampingi KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur sebagai Ketua Umum PB NU.

Pada saat muktamar NU di Krapyak KH Ilyas menjadi salah satu anggota Rois Syuriah PBNU. Kemudian sejak Munas dan konferensi besar NU di Bandar Lampung tahun 1992, Ilyas ditunjuk sebagai pelaksana Rois Aam Syuriah NU menggantikan Rois Aam K.H. Ahmad Shiddiq yang wafat. Kemudian K.H. Ilyas kembali menjadi Rois Aam untuk periode berikutnya 1994-1999.

Totalitas perjuangan Ajengan Ilyas dalam NU sangatlah besar dan dikagumi warga NU. Tidak hanya warga NU, tetapi seluruh bangsa. Karena di Jawa Barat dia juga sering memelopori dialog lintas agama dan linta sektoral. Dia selalu menggandeng Muhammadiyah dalam persoalan umat Islam.

Dalam pluralitas keberagamaan, dia selalu menggendeng para pemuka agama Indonesia, termasuk ikut masuk dan berceramah di pesantrennya. Walaupun demikian, dia tetap santun dan rendah diri. Menduduki posisi tertinggi di NU, dia tetap tinggal di Cipasung. Karena baginya, Ilyas dan Cipasung bagai biji yang tumbuh ditanahnya sendiri.

K.H. Ilyas menikah dengan Hj. Dedeh Fuadah, sang istri melukiskan kenangan pernikahannya bahwa hal yang mengharukan, selama menikah tidak pernah Ilyas memarahi istrinya.

“Selama 50 tahun hidup bersama, Apih (sebutan Ayah) ini tidak pernah membentak, atau memaki saya. Apih sayang sekali kepada kita, sabar serta penuh perhatian kepada kami atau kepada anak-anak. Selalu menghargai sikap saya, juga mengayomi, ” ujarnya.

KH Ilyas memiliki tiga orang anak yaitu Acep Zamzam Noor, seorang sastrawan terkenal, Ida Nurhalida meraih master di UPI Bandung, dan si bungsu Enung Nursaidah Rahayu juga master pendidikan biologi.

 

2.KH. A Shohibulwafa Tajul Arifin (Abah Anom) Ponpes Suryalaya

Abah Anom, dilahirkan di Suryalaya, Tasikmalaya tanggal 1 Januari 1915. Dia adalah putra kelima Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad, pendiri Pondok Pesantren Suryalaya, dari ibu yang bernama Hj Juhriyah. Pada usia delapan tahun Abah Anom masuk Sekolah Dasar (Verfolg School) di Ciamis antara tahun 1923-1928.

Kemudian ia masuk Sekolah Menengah semacan Tsanawiyah di Ciawi Tasikmalaya. Pada tahun 1930 Abah Anom memulai perjalanan menuntut ilmu agama Islam secara lebih khusus. Beliau belajar ilmu fiqih dari seorang Kyai terkenal di Pesantren Cicariang Cianjur, kemudian belajar ilmu fiqih, nahwu, sorof dan balaghah kepada Kyai terkenal di Pesantren Jambudipa Cianjur.

Setelah kurang lebih dua tahun di Pesantren Jambudipa, beliau melanjutkan ke Pesantren Gentur, Cianjur yang saat itu diasuh oleh Ajengan Syatibi.

Dua tahun kemudian (1935-1937) Abah Anom melanjutkan belajar di Pesantren Cireungas, Cimelati Sukabumi. Pesantren ini terkenal sekali terutama pada masa kepemimpinan Ajengan Aceng Mumu yang ahli hikmah dan silat.

Dari Pesatren inilah Abah Anom banyak memperoleh pengalaman dalam banyak hal, termasuk bagaimana mengelola dan memimpin sebuah pesantren.

Beliau telah meguasai ilmu-ilmu agama Islam. Oleh karena itu, pantas jika beliau telah dicoba dalam usia muda untuk menjadi Wakil Talqin Abah Sepuh. Percobaan ini nampaknya juga menjadi ancang-ancang bagi persiapan memperoleh pengetahuan dan pengalaman keagaman di masa mendatang.

Kegemarannya bermain silat dan kedalaman rasa keagamaannya diperdalam lagi di Pesantren Citengah, Panjalu, yang dipimpin oleh H. Junaedi yang terkenal sebagai ahli alat, jago silat, dan ahli hikmah.

Setelah menginjak usia dua puluh tiga tahun, Abah Anom menikah dengan Euis Siti Ru’yanah. Setelah menikah, kemudian ia berziarah ke Tanah Suci. Sepulang dari Mekah, setelah bermukim kurang lebih tujuh bulan (1939), dapat dipastikan Abah Anom telah mempunyai banyak pengetahuan dan pengalaman keagamaan yang mendalam.

Pengetahuan beliau meliputi tafsir, hadits, fiqih, kalam, dan tasawuf yang merupakan inti ilmu agama. Oleh Karena itu, tidak heran jika beliau fasih berbahasa Arab dan lancar berpidato, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda, sehingga pendengar menerimanya di lubuk hati yang paling dalam.

Beliau juga amat cendekia dalam budaya dan sastra Sunda setara kepandaian sarjana ahli bahasa Sunda dalam penerapan filsafat etnik Kesundaan, untuk memperkokoh Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Bahkan baliaupun terkadang berbicara dalam bahasa Jawa dengan baik.

Ketika Abah Sepuh Wafat, pada tahun 1956, Abah Anom harus mandiri sepenuhnya dalam memimpin pesantren. Dengan rasa ikhlas dan penuh ketauladan, Abah Anom gigih menyebarkan ajaran Islam.

Pondok Pesantren Suryalaya, dengan kepemimpinan Abah Anom, tampil sebagai pelopor pembangunan perekonomian rakyat melalui pembangunan irigasi untuk meningkatkan pertanian, membuat kincir air untuk pembangkit tenaga listrik, dan lain-lain.

Dalam perjalanannya, Pondok Pesantren Suryalaya tetap konsisten kepada Tanbih, wasiat Abah Sepuh yang diantara isinya adalah taat kepada perintah agama dan negara. Maka Pondok Pesantren Suryalaya tetap mendukung pemerintahan yang sah dan selalu berada di belakangnya.

3, KH Khoer Affandi (Ponpes MIftahul Hida Manonjaya)

KH. Choer Affandi bernama kecil Onong Husen, lahir pada hari Senin tanggal 12 September 1923 M di kampung Palumbungan Desa Cigugur Kecamatan Cigugur Kewedanan Cijulang Ciamis, dari Pasangan Raden Mas Abdullah bin Hasan Ruba’I yang masih mempunyai keturunan Raja Mataram dan Siti Aminah binti Marhalan yang mempunyai keturunan dari Wali Godog Garut.

KH. Choer Affandi merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, beliau mempunyai kakak yang bernama Husein (Darajat) dan seorang adik perempuan yang bernama Husnah (Emih) Menurut KH. Abdul Fatah (Aa), dalam darah Onong Husen mengalir darah bangsawanan dan darah ulama yang dominan dalam membentuk kepribadian KH. Choer Affandi. Hal ini, terbukti dengan sikap Uwa yang sangat tertarik pada ilmu-ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum.

Pada waktu itu ayah KH. Choer Affandi adalah pegawai Belanda. Hal ini menjadi kekhawatiran tersendiri bagi neneknya yang bernama Haesusi terhadap KH. Choer Affandi, sehingga setelah Onong Husen menamatkan pendidikan umumnya di HIS, maka pada tahun 1936 M neneknya membujuk Onong untuk mengaji di Pesantren KH. Abdul Hamid.

Perjuangan Uwa Ajengan dalam Mengemban Da’wah

Uwa Ajengan memasuki masyarakat biasa dan selalu tidak luput daripada mencari murobby. Yang dimaksud dengan mencari murobby adalah betapa sulitnya menjadi hamba Alloh yang sebenarnya. Inilah salah satu bentuk kerendahan hati Uwa yang patut jadi perhatian kita bersama.

KH. Abdul Fatah (Aa) merupakan anak sulung dari Uwa. Setelah Aa dewasa, Aa diangkat jadi ajudan terakhir dan sekretaris pribadi KH. Choer Affandi, hingga hembusan nafas terakhir Uwa di RSHS Bandung.

Ketika itu yang menyaksikan langsung adalah Aa dan Umi Hj. Sofiyah. Aa bertindak sebagai pendamping Uwa dhohir dan batin. Pendamping batin maksudnya supaya Uwa utuh menghadap Alloh sebagai al-alim, al-almah dan al-waro’.

Aa berada di posisi kanan Uwa, dan Umi di sebelah kiri Uwa. Umi talkin kepada Uwa dengan kata-kata: “Pa, bade mangkat menghadap Alloh mah sing buleud, ulah melang kana hanca pamurukan, putra, putu, mantu sanggup neraskeun.”

Inilah benar-benar Uwa istri sebagai mujahidah, mujahidah yang merupakan ciri dari muhibbin sesuai dalam arti kelembagaan. Mulyana Uwa istri seperti mujahid kaljasa dilwahid dengan Uwa yang tidak ada kecanggungan, sama-sama dalam jalur minalloh, ‘alalloh, ilalloh, fillah.

Talkin Aa ka Uwa : “Maaf beribu maaf ka Alloh, hakekat ka Alloh” bari dicepeng taarna.

“Apa yakinkeun kupangersa moal muntah tina title apa ti Alloh sebagai mujahid, muhajjir, muhibbin, kalayan engke ngahisina apa tos janten urang akherat, ayeuna mah ngawujud aqli anu sangat dirahasiakan oleh Alloh (kecuali yang telah diberi tahu, yang se-thoriqoh).”
Saur apa (Uwa) : “Apa alim menghadap Alloh di ieu tempat (RSHS) tapi mau di Miftahul Huda”. Uwa selalu mengatakan : “Hayu urang balik, embung di dieu, hayang di pasantren”.

Dan ketika apa (Uwa) menghembuskan nafas terakhir, Aa mengucapkan Alhamdulillah, karena beliau pergi menghadap Alloh dengan tersenyum, yaitu pada hari Jum’at pukul 21.30. (*/Der)

Sumber: Wikipedia

Pos terkait