Ada 12.291 Janda Muda di Garut, 35 % PNS

  • Whatsapp

GARUT, JURNALPRIANGAN.com: Tingkat perceraian di Kabupaten Garut dalam sepanjang Januri-November 2019 terbilang tinggi. Yang ironis janda atau duda baru rata-rata masih berusia muda antara 22-37 tahun. Tingginya perceraian itu karena masalah ekonomi dan cekcok yang tak kunjung usai. Namun ada juga PNS yang ekonominya cukup, tapi memilik cerai, penyebabnya adalah masalah kurang puas.

“Memang benar angka perceraian di Kabupaten Garut meningkat tajam setiap tahunnya yang paling dominan adalah perekonomian. Ekonomi yang melemah berdampak pada keharmonisan rumah tangga. Tapi ada juga yang sudah PNS gajinya rutin malah daftar cerai, mereka mengaku penyebabnya karena tak puas atau selingkuh dengan teman sekerja,” kata Juru Bicara Pengadilan Agama Kelas 1A Garut, Muhammad Dihyah Wahid.

Muat Lebih

Dia mengatakan sejak sejak 2016 hingga akhir tahun 2019, di Garut ada sebanyak 12.291 janda baru jumlah sebanyak itu baru berdasarkan data yang masuk di Pengadilan Agama Garut dan yang sudah diputus hingga akhir tahun 2018. PNS juga mendominasi sekitar 35 persen.

“Bisa saja jumlahnya bertambah¬† banyak dari itu karena tak menutup kemungkinan masih ada yang belum terdata,” kata Dihyah.

Menurut dia, meski ada janda yang usianya muda dan tua, rata-rata mereka yang bercerai masuk dalam kategori usia produkstif yakni 23-35 tahun.

Dihyah mengatakan, ada berbagai faktor yang menjadi penyebab banyaknya pasangan suami-istri yang memilih berpisah. Perceraian lebih banyak diakibatkan faktor ekonomi dan suami yang dianggap tidak bertanggung jawab.

Dibanding tahun-tahun sebelumnya, tutur Dihyah, kasus perceraian yang terjadi selama tiga tahun terakhir cenderung mengalami peningkatan. Berdasarkan data yang ada, kenaikan kasus prceraian dalam tiga tahun terakhir mencapai hampir 46 persen.

“Sebelumnya, pada 2016, jumlah kasus perceraian yang sudah diputus mencapai 3.642 kasus. Namun, tahun 2018 naik cukup tinggi menjadi 4.647 kasus,” kata dia seperti dilansir pikiran-rakyat.com