Ada Ribuan Janda yang Punya Anak di Tasikmalaya, Bagaimana Nasibnya?

  • Whatsapp
janda di tasik

TASIKMALAYA, JURNALPriangan.com: Angka perceraian di Tasikmalaya (kabupaten dan kota) sangat tinggi. ITingginya angka perceraian berdampak pada dominannya kasus perebutan hak asuh anak. Anak-anak korban perceraian itu usianya rata-rata pada kisaran 5-12 tahun. Mereka jadi korban konflik rumah tangga yang berlangsung terus menerus.  Dengan demikian ada ribuan janda yang punya anak di Tasikmalaya.

“Data yang ada pada kami di Kota Tasikmalaya kasus perceraian meningkat setiap tahunnya kurang lebih 2.000-an kasus, sedangkan anak-anak korban perceraian 30 persen berusia balita,” kata Ketua KPAD Kota Tasikmalaya Eki Sirojul Baehaqi dalam siaran persnya.

Muat Lebih

KPAD Kota Tasikmalaya mencatat, sengketa hak asuh masih menempati urutan pertama kasus yang paling banyak dilaporkan pada 2019. Hal itu dipengaruhi pula oleh banyaknya kasus perceraian yang terjadi di Kota Tasikmalaya.

Dari fakta tersebut, lanjutnya, cukup wajar bila fenomena tingginya perceraian menimbulkan dampak ikutannya yaitu perebutan hak asuh atas anak atau bahkan penelantaran.

baca juga: Jumlah Janda di Tasikmalaya Naik  Tajam, Penyebabnya Selingkuh

“Keputusan cerai ternyata tak menyelesaikan masalah. Malah sebaliknya memasuki babak baru dengan segudang masalah. Orangtua ego dan anak jadi korban,” kata Eki.

Anak pun semakin terbebani psikisnya yang sudah tentu menjadi ancaman sangat serius terhadap tumbuh kembangnya. “Ancaman tersebut dapat berupa penelantaran, putusnya pendidikan, anak berkonflik dengan hukum, dan sebagainya,” ucap Eki.

“Oleh karenanya pada usia masa perkembangan anak sedapat mungkin harus dipastikan mereka tidak mengalami atau terlibat masalah yang serius yang berdampak destruktif terhadap tumbuh-kembangnya baik secara fisik maupun psikis,” ujar Eki.

Ia menambahkan, populasi anak di Kota Tasikmalaya mencapai 30% dari total jumlah penduduknya. “Sesunggunya merekalah yang akan menentukan nasib daerah di masa depan. Sehingga apabila sebagai orang dewasa saat ini salah memperlakukan mereka, akibatnya akan dirasakan puluhan tahun ke depan,” kata Eki.

Ia meyakini, aspek pengasuhan masih diyakini sebagai faktor penentu terhadap kualitas anak. “Pengasuhan menjadi pilar penentu perkembangan anak. Boleh dikatakan apabila pengasuhannya baik maka anak akan menjadi baik, namun sebaliknya bila pengasuhannya buruk maka tidak akan menghasilkan anak yang berkualitas,” ucapnya.

Bahkan saat orang tua atau wali gagal dalam memberikan pola asuh, anak akan berpotensi mendapatkan masalah berupa terlantar atau berkonflik dengan hukum alias pelaku kejahatan.

Eki mengatakan ‎2019 sebenarnya lebih baik bagi KPAD Kota Tasikmalaya. Sebab selama tahun 2019 jumlah pengaduan masyarakat turun dibandingkan dengan tahun 2018 yang berjumlah 42 kasus, sementara pada tahun 2019 berjumlah 30 kasus.

 

Pos terkait