Mengenang Detik-detik Wafatnya Ua Choer Affandi dan 20 Wasiatnya yang Membumi

  • Whatsapp
Mengenang Detik-detik Wafatnya Ua Choer Affandi dan 20 Wasiatnya yang Membumi
foto istimewa

TASIK, JURNALPRIANGAN.com: Ulama Kharismatik asal Tasikmalaya KH Choer Affandi (Pimpinan Pondok Pesantren MIftahul Huda Manonjya) ternyata adalah keturunan bangsawan Mataram. Ua Choer begitu disapa dilahirkan dari Pasangan Raden Mas Abdullah bin Hasan Ruba’I dan Siti Aminah binti Marhalan yang mempunyai keturunan dari Wali Godog Garut.

KH. Choer Affandi adalah anak kedua dari tiga bersaudara, beliau mempunyai kakak yang bernama Husein (Darajat) dan seorang adik perempuan yang bernama Husnah (Emih).

Muat Lebih

KH. Choer Affandi sebenarnya memiliki nama kecil Onong Husen, lahir pada hari Senin tanggal 12 September 1923 M di kampung Palumbungan Desa Cigugur Kecamatan Cigugur Kewedanan Cijulang Ciamis,

Menurut KH. Abdul Fatah (Aa), dalam darah Onong Husen mengalir darah bangsawanan dan darah ulama yang dominan dalam membentuk kepribadian KH. Choer Affandi. Hal ini, terbukti dengan sikap Uwa yang sangat tertarik pada ilmu-ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum.

Pada waktu itu ayah KH. Choer Affandi adalah pegawai Belanda. Hal ini menjadi kekhawatiran tersendiri bagi neneknya yang bernama Haesusi terhadap KH. Choer Affandi, sehingga setelah Onong Husen menamatkan pendidikan umumnya di HIS, maka pada tahun 1936 M neneknya membujuk Onong untuk mengaji di Pesantren KH. Abdul Hamid.

Pesantren Tempat Uwa Ajengan Mendalami Ilmu

  • Fan Tauhid, dari Pesantren Cipancar Cigugur Ciamis dan dari KH. Abdul Hamid, Pangkalan Langkap Lancar Ciamis.
  • Fan Fiqih, dari Cikalang Tasikmalaya.
  • Fan Alat, kitab-kitab ‘Ibtida di Sukamanah Singaparna, kitab-kitab Tsanawi di KH. Masluh (Alumni Sukamanah) Legok Ringgit Singaparna dan, kitab-kitab Ma’hadul ‘Aly di Lewisari Paniis Singaparna.
  • Tafsir/ Asmaul Husna, dari KH. Ahmad Sanusi, Guyung Puyuh Sukabumi (pesantren tempat Uwa Ajengan menerima Ilham nama pesantren Wanasuka).
  • Suluk/ Falak, dari KH. Tuan Manshur Jembatan Lima, Grogol Jakarta Barat.
  • Ruhul Jihad, dari KH. Zaenal Musthofa, Singaparna Tasikmalaya (Uwa Ajengan di didik Ruhul Jihad oleh gurunya sejak mulai ngaji Jurmiyah).
  • Faroidh (ilmu waris), dari KH. Mahfudz, Babakan Tipar Sukabumi.
    Qur’an/ Tazwid, dari daerah Cigeureung Kota Tasikmalaya sebelah Utara.

Perjuangan Uwa Ajengan dalam Mengemban Da’wah

Uwa Ajengan memasuki masyarakat biasa dan selalu tidak luput daripada mencari murobby. Yang dimaksud dengan mencari murobby adalah betapa sulitnya menjadi hamba Alloh yang sebenarnya. Inilah salah satu bentuk kerendahan hati Uwa yang patut jadi perhatian kita bersama.

KH. Abdul Fatah (Aa) merupakan anak sulung dari Uwa. Setelah Aa dewasa, Aa diangkat jadi ajudan terakhir dan sekretaris pribadi KH. Choer Affandi, hingga hembusan nafas terakhir Uwa di RSHS Bandung.

Ketika itu yang menyaksikan langsung adalah Aa dan Umi Hj. Sofiyah. Aa bertindak sebagai pendamping Uwa dhohir dan batin. Pendamping batin maksudnya supaya Uwa utuh menghadap Alloh sebagai al-alim, al-almah dan al-waro’.

Aa berada di posisi kanan Uwa, dan Umi di sebelah kiri Uwa. Umi talkin kepada Uwa dengan kata-kata:

“Pa, bade mangkat menghadap Alloh mah sing buleud, ulah melang kana hanca pamurukan, putra, putu, mantu sanggup neraskeun.

Inilah benar-benar Uwa istri sebagai mujahidah, mujahidah yang merupakan ciri dari muhibbin sesuai dalam arti kelembagaan.

Muliyana Uwa istri seperti mujahid kaljasa dilwahid dengan Uwa yang tidak ada kecanggungan, sama-sama dalam jalur minalloh, ‘alalloh, ilalloh, fillah.

Talkin Aa ka Uwa : “Maaf beribu maaf ka Alloh, hakekat ka Alloh? bari dicepeng taarna.

“Apa yakinkeun kupangersa moal muntah tina title apa ti Alloh sebagai mujahid, muhajjir, muhibbin, kalayan engke ngahisina apa tos janten urang akherat, ayeuna mah ngawujud aqli anu sangat dirahasiakan oleh Alloh (kecuali yang telah diberi tahu, yang se-thoriqoh).?

Saur apa (Uwa) : “Apa alim menghadap Alloh di ieu tempat (RSHS) tapi mau di Miftahul Huda

Uwa selalu mengatakan : “Hayu urang balik, embung di dieu, hayang di pasantren

Dan ketika apa (Uwa) menghembuskan nafas terakhir, Aa mengucapkan Alhamdulillah, karena beliau pergi menghadap Alloh dengan tersenyum, yaitu pada hari Jum’at pukul 21.30.

20 Amanat Amanat KH Choer Affandi

1.Sholat awal waktu ber jama’ah
2. Jangan berhenti mencari ilmu
3. Jangan terjun ke dunia politik
4. Jangan berhenti mencari teman
5. Pertahankan aqidah ahlussunnah wal jama’ah
6. Lamun hayang maju ulah euren mikir
7. Lamun hayang maju kudu daek cape
8. Ulah embung di sebut bodo
9.Ulah embung di sebut sahandapeun
10.sagala anu tumiba kadiri gara-gara diri
11.ubar diri aya di diri
12.euweuh nu nyaah kana diri kajaba anu boga diri
13.Harga diri kumaha diri
14.ari ngitung kudu tihiji,ulah hayang ujung ujung angka salapan
15.Mun nyien pondasi tong sok maka mikiran kenteng
16.senajan teu lumpat tapi ulah cicing
17.sagede-gedena jalan syare’at,ulah matak ngurangan tawakal ka Alloh
18.Tong leumpang dina hayang,tong cicing dina embung,tapi kudu leumpang dina kudu,kudu euren dina ulah
19.Tong lesot hate tina eling ka Alloh dina kaayaan kumaha wae,sedih,susah jg bungah
20.sarebu sobat saeutik teuing,hiji musuh loba teuing

Berbagai sumber

Pos terkait