Tahun 2019 Peredaran Narkoba di Tasikmalaya Menggila, Semua Jenis Ada, Ini Kata Ulama

  • Whatsapp

TASIKMALAYA, JURNALPriangan: Sepanjang tahun 2019 peredaran narkoba di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya masih marak. Bahkan menjadi sasaran utama utama peredaran narkoba di Jawa Barat. Parahnya lagi menurut BNN hampir semua jenis narkoba ada di Tasikmalaya.

“Tasikmalaya tampaknya jadi  sasaran utama jarinngan narkoba. Hal ini jadi kekhawatiran kita bersama,” kata  Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Tasikmalaya, Tuteng Budima rilis kinerja BNN Kota Tasikmalaya sepanjang tahun 2019, Senin (30/12/2019).

Muat Lebih

Dalam catatan BNN Kota Tasikmalaya, pihaknya telah mengungkap kasus narkoba. Cukup mencengangkan di Tasikmalaya semua jenis narkoba ada

“Jenis narkoba yang beredar di sini komplet mulai dari cimeng, sabu ganja, pil double Y, dumolid, alprazolam, dan excimer. Ada di sini duh pokoknya kami khawatir. Ohya pil terbaru PCC juga ada di Tasikmalaya ,” kata Tuteng Budiman.

Jenis narkoba itu masuk ke Tasikmalaya dari Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jabotabaek. Bahkan ada yang dari luar Jawa. Jaringan narkoba di Tasikmalaya itu sangat banya. Tapi BNN sepanjang tahun 2019 hanya mampu mengungkap enam kasus penyalahgunaan narkoba. Itu juga hanya empat kasus yang lanjut ke meja hijau.

“Sebenarnya ada enam kasus. Tapi yang dua kasus tidak  sampai ke meja hijau. Alasannya kasus pertama korbannya masih di bawah umur, dan kasus kedua diserahkan ke Polres Ciamis karena tersangkanya DPO Ciamis,” ujar Tuteng. Itu kasus yang dibawah umur tersebut sabu-sabu dan kokain dalam liquid vape.

Peredaran narkoba di Tasikmalaya
Kapolres Tasikmalaya Kota, AKBP Febry Kurniawan Maruf didampingi Kabagops, Kompol Gandi Jukardi (kiri) dan Kasatnarkoba AKP Hamzah Badaru menunjukan sejumlah ganja dan sabu-sabu saat konferensi pers di halaman Mapolresta, (foto tribunjabar)

 Ulama Tasikmalaya Desak Mafia Narkoba  Dihabisi

Maraknya peredaran narkoba di kota santri membuat Ketua MUI Kota Tasikmalaya KH Ate Musodiq prihatin. Dia mengimbau aparat berwenang untuk segera bergerak untuk memutus rantai peredaran narkoba di kota Tasikmalaya. Sebab hal ini akan merusak generasi muda.

“Orang jahat selalu punya cara yang cerdik untuk mencapai tujuan. Temuan BNN itu menjadi fakta saat ini, tinggal kitanya yang harus lebih cerdik mencegah dan mengantisipasi,” ujarnya kepada Radar, Rabu (3/1).

Untuk itu, pemerintah daerah, aparat kepolisian, TNI, BNN termasuk tokoh masyarakat dan ulama harus segera bergerak dengan kapasitasnya masing-masing. Karena ancaman narkoba selalu siap menyerang dari penjuru manapun. “Tapi yang disesalkan, dalam permasalahan narkoba pengedar besar belum pernah berhasil dimunculkan,” tanyanya.

Menurut ulama NU ini , perlu digelar razia dan pemeriksaan ke penjual atau produsen liquid vape oleh aparat terkait. Hal itu sebagai cara memonitor penjualan liquid dengan campuran yang berbahaya termasuk narkoba. “Bukannya tidak percaya kepada penjual, tapi ini kan kejadiannya sudah ada dan harus ditindaklanjuti,” tuturnya.

Menurut dia kasus ini layaknya fenomena gunung es dimana fakta yang terjadi jumlahnya lebih besar dari peristiwa yang diketahui. Sehingga tidak menutup kemungkinan masih ada pengguna vape lain yang tanpa sadar mengonsumsi narkoba. “Siapa yang bisa memastikan tidak ada korban lain selain anak yang ditemukan BNN,” katanya.

Hal senada dikemukakan Pimpinan Ponpes Ihya Assunnah Ustad Maman Suratman, dia mengatakan pemerintah harus segera bergerak, khususnya instansi yang bersangkutan. Sebab, ketika ada bukti kuat, harus ada tindaklanjut dalam menuntaskan temuan liquid mengandung sabu-sabu tersebut. “Kalau faktanya sudah ada, mau tidak mau harus dilakukan razia pemeriksaan liquid,”ujarnya.

Menurut dia, kandungan sabu-sabu dalam liquid yang ditemukan BNN, bukan sebuah kebetulan. Terlebih saat ini penggunaan vape tidak mengenal usia dari mulai anak-anak sampai dewasa. “Karena sudah menjadi tren gaya hidup, mungkin dianggapnya keren ketika menggunakan vape,” tandasnya.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Singaparna KH Cucu Suryadayana khawatir para pemuda semakin terjerumus miras oplosan. “Kita himbau kepada para orang tua, kiai, ajengan jangan bosan dan harus sungguh-sungguh membina anak-anak dan masyarakat,” ungkap KH Cucu kepada Radar di Masjid Agung Baiturahman, Singaparna, Rabu (25/12).

KH Cucu meminta anak-anak diberikan pemahaman tauhid yang dalam, dengan harapan generasi muda bisa terarah dan sadar akan bahaya narkoba termasuk miras. “Kalau kita lalai (orang tua atau pemerintah, Red) bisa menjadi dosa besar,” paparnya.

 

Ketua PCNU Kabupaten Tasikmalaya KH Atam Rustam MPd sangat menyayangkan atas kejadian dua orang remaja yang meninggal akibat miras oplosan. “Kemungkinan kurang perhatian dan pengawasan dari keluarga, pendidikan mental dan akhlak di lingkungan keluarga kurang diterima anak, kami minta orang tua lebih waspada dan memberikan pengawasan lebih ketat dan tentang agama kepada anak,” ungkap dia.

Hal senada dikemukakan Sekretaris Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Kota Tasikmalaya Ajat Sudrajat. Menurutnya  ‎upaya penggerebekan semata tidak memberikan efek jera bagi para pelaku. Apalagi,‎ hukuman bagi penjual Miras pun dinilai terlalu ringan.

“‎Upaya preventif harus diperluas dan bukan hanya seremonial, peredaran miras bisa di tekan jika masyarakat kompak dan bisa menjadi benteng pertahanan yang kuat dari peredaran miras,” kata Ajat saat dihubungi, Rabu, 25 Desember 2019.

Tak pelak, lanjutnya, ‎harus ada pengawasan yang ekstraketat terhadap peredaran miras.

“Pengawasan tidak cukup dilakukan oleh aparat kepolisian saja,‎ penting juga untuk melibatkan masyarakat,” ucapnya.

Peran pengurus RT dan RW juga perlu dilibatkan dan dioptimalkan dalam mencegah peredaran Miras bukan hanya bertumpu pada Korps Bhayangkara.‎

(edi kusnadi sumpena)

 

Pos terkait