Anak Punk di Tasikmalaya Identik dengan Narkoba, Seks Bebas dan Kekerasan

  • Whatsapp
anak punk tasikmalaya

TASIKMALAYA, JURNALPriangan.com: Ada sebanyak 254 anak punk di Kota Tasikmalaya, keberadaan anak punk di kota ini mengganggu warga. Pasalnya, stigma terhadap anak pun belum berubah yakni dikaitkan dengan hal-hal negatif, seperti miras, narkoba, seks bebas dan kekerasan.

Wali Kota Tasikmalaya Budi Budiman menyebut, di wilayahnya saat ini terdapat sekitar 254 anak punk. Ia meminta sejumlah pihak terkait untuk melakukan upaya penanggulangan terkait keberadaan mereka.

Muat Lebih

“Kita cari solusinya karena kita yakin bisa menanggulanginya. Meskipun ada keterbatasan, ayo sama-sama tuntaskan,” kata Budi, Kamis 9 Januari 2020.

Menurut Budi, semakin menjamurnya anak jalanan di Kota Tasikmalaya disebabkan adanya pihak-pihak yang memanfaatkan, dalam hal ini ia mencontohkan adalah mafia.

Maka dari itu, Budi tegas ingin memerangi mafia yang mengontrol anak-anak punk tersebut sampai tuntas.

Ketua DPRD Kota Tasikmalaya, Aslim, harus ada solusi konkret agar anak-anak itu setelah dibina tidak kembali lagi ke jalan dan meresahkan warga.

“Mudah-mudahan kita bisa bersama-sama memberikan solusi terbaik agar tak ada lagi anak-anak punk di Kota Tasik,” ujarnya.

Kasus Kriminal Yang Libatkan Anak Punk

Sepanjang tahun 2019 kasus kriminal yang melibatkan anak punk sangat tinggi. Kapolres Tasikmalaya Kota, AKBP Anom Karibianto mengatakan fenomena menjamurnya anak punk di Tasikmalaya harus diantisipasi segera mungkin agar tak menimbulkan maaslah baru di kota ini.

Menurut dia kasus yang melibatkan anak punk adalah penyalahgunaan narkoba, pencabulan anak di bawah umur, penculikan, minuman keras, dan lainnya. “Perlu perhatian semua pihak, polisi terus membina mereka,” katanya.

Kepala Dinas Sosial Kota Tasikmalaya, Nana Rosadi megklaim sejauh ini pihaknya sudah melakukan pembinaan dengan baik. Namun jika tidak didukung oleh semua pihak hasilnya tak maksimal. “Kami selalu koordinasi dengan TNI Polri. “Kalau mereka ditangkap kami jamin akan dibina dengan baik,” katanya.

Pembinaan anak punk di kota resik memang tak bisa instan, harus terus menerus. Karena untuk menyadarkan mereka perlu waktu lama, mereka sudah nyaman hidup seperti itu. “Makanya pemberdayaan harus dilakukan secara secara berkelanjutan. “Untuk kembali ke kehidupan normal peran keluarga sangat diperlukan meskipun sudah kami bina tetap saja tak menjamin mereka kembali hidup normal,” katanya.

Namun Nana mengakui untuk membina anak punksulit dilakukan lantaran kehidupan mereka berpindah-pindah. Beda dengan pembinaan anak pengangguran
“Tapi kami belum memiliki tempat penampungan khusus. Adapun tempat persinggahan yang juga merangkap balai latihan kerja.

Pos terkait