Duh..! Ambil Getah Seharga Rp 17 Ribu, Kakek Samirin Masuk Bui

  • Whatsapp

JURNALPriangan.com: Koruptor yang merampok uang rakyat miliaran bahkan triliunan hanya dibui beberapa tahun, tapi kakek Samirin harus masuk dibui selama 2 bulan 4 hari karena mengambil sisa getah karet di perkebunan milik Bridgestone di Sumatera Utara (Sumut). Padahal kakek berusia 69 tahun itu mengambil sisa getah karet seharga Rp 17.480. Itu pun dia lakukan karena tak sengaja.

Jurnalpriangan.com melansir detik.com, bahwa Samirin itu pekerjaanya membantu jadi tukang angon (pengembala) lembu dengan upah Rp 20 ribu per hari. Memang sebelumnya Samirin adalah buruh di perkebunan milik Bridgestone itu. Setelah pensiun, ia tinggal tidak jauh dari perkebunan karet di rumah anaknya. Pendidikannya pun tidak tinggi.

Petaka terjadi pada 17 Juli 2019 petang. Kala itu Kakek Samirin baru saja selesai menggembala lembu di Nagori Dolok Ulu, Kecamatan Tapian Dolok, Kabupaten Simalungun.

Samirin kemudian melihat sisa karet di mangkok penyadapan di pohon. Merasa sayang bila sisa itu terbuang percuma, Samirin kemudian mengambil sisa karet itu dan dimasukkan ke kantong kresek.

Di saat yang sama, ada petugas perkebunan yang sedang berpatroli. Samirin lalu dibawa ke kantor pengamanan perkebunan PT Bridgestone SRE Dolok Maringir. Penjaga kebun itu menimbang getah dan hasilnya sebesar 1,9 kg. Bila diuangkan seharga Rp 17.480.

Bridgestone tidak memberi maaf dan memproses kasus ini ke polisi. Di tingkat polisi, Samirin tidak ditahan. Samirin kaget bukan kepalang ketika berkasnya masuk ke kejaksaan, ia malah ditahan. Jaksa berdalih takut Samirin akan melarikan diri dan tidak datang ke sidang.

“Ini kan sangat subjektif, kemalasan jaksa. Macam mana mau kabur? Koruptor bisa kabur, ini kan warga biasa,” kata Hinca dengan geram.
Baca juga:
Ambil Getah Karet Seharga 17 Ribu Perak, Kakek Samirin Dituntut 10 Bulan Bui

Sesampai di persidangan, jaksa dengan tega menuntut Samirin hukuman 10 bulan penjara. Menurut jaksa, hukuman 10 bulan penjara sangat pantas untuk Samirin yang telah merugikan Bridgestone sebesar Rp 17.450!

Akhirnya Pengadilan Negeri (PN) Simalungun terketuk hatinya. Majelis hakim memutuskan menghukum Samirin selama 2 bulan 4 hari penjara. Dengan hukuman itu, Samirin langsung bebas hari itu juga, yaitu Rabu (15/1) kemarin. Meski langsung bebas, Samirin telah menghuni bui dan dirampas hak asasinya hanya karena merugikan Bridgestone sebesar Rp 17.450.

Terpisah dari BSRE, Bridgestone juga memiliki entitas berbeda bernama PT Bridgestone Tire Indonesia (BSIN) yang mengoperasikan perusahaan manufaktur dan penjualan ban. PT Bridgestone Tire Indonesia (BSIN) berfokus pada pasar domestik dan ekspor. BSIN memiliki dua pabrik ban yang berlokasi di Bekasi dan Karawang, dengan produk yang menggunakan bahan baku yang diperoleh dari berbagai sumber.

“Bridgestone, sebagai perusahaan, mematuhi dan mengikuti hukum dan peraturan setempat di semua wilayah operasi kami, termasuk Indonesia,” kata¬† Arko. (ede)

Pos terkait