Konflik Indomaret dan MIftahul Huda: Sama Pesantren Damai, Sama Keluarga Belum

  • Whatsapp

TASIKMALAYA, JURNALPriangan.com: Persetruan antara pihak Indomaret dengan Pondok Pesantren Miftahul Huda Manonjaya Kab Tasikmalaya berakhir damai. Tapi pihak Indomaret harus menyelesaikan dengan keluarga santri karena persoalan pribadi santriwati yang menjadi korban. Karena digeledah saat dikasir dan disaksikan umum santri mengalami tekanan psikirs.

“Kalau secara kelembagaan sudah selesai, penyelesaian dengan keluarga (korban) tetap harus dilakukan juga,” kata Pimpinan Ponpes Miftahul Huda KH Asep Maoshul Affandy Minggu sore (5/1) usai melakukan pertemuan dengan manajemen Indomaret di Ponpes Miftahul Huda.

Manajeman Indomaret datang ke Ponpes Miftahul Huda untuk meminta maaf secara langsung atas sikap pegawainya yang membuat tidak nyaman salah satu santriwati ketika berbelanja ke Indomaret Manonjaya. Dalam pertemuan yang berlangsung akrab tersebut, kedua pihak menyatakan islah.

“Mereka sudah meminta maaf seperti apa yang kita minta, ya sekarang sudah selesai,” ujarnya usai menerima perwakilan Indomaret di Ponpes Miftahul Huda Manonjaya Minggu (5/1).

Setelah islah pihak Indomaret di Manonjaya boleh i beroperasi. Dengan catatan, tidak ada lagi karyawan yang berbuat kasar dan seenaknya terhadap santri.

Di samping itu, KH Asep menegaskan Indomaret tetap harus menuntaskan juga persoalan pribadi santriwati yang menjadi korban. Karena efek kejadian kemarin memberikan tekanan psikis terhadapnya.

“Ini kan secara kelembagaan, penyelesaian dengan keluarga (korban) tetap harus dilakukan juga,” katanya.

Disinggung adanya gerakan solidaritas santri dan ulama dari ponpes lain, KH Asep mengaku tidak punya kewenangan melarang. Namun dirinya meminta gerakan apapun harus dilakukan dengan tertib. “Yang terpenting jangan sampai melakukan perusakan,” ujarnya.

Deden Mulyadi, sebagai License Indomaret Cabang Bandung yang membawahi Indomaret se-Jawa Barat mengaku lega atas islah tersebut. Pihaknya akan segera kembali membuka minimarket yang kemarin disoal. “Kita beres-beres dulu, mungkin besok (hari ini.Red) mulai buka,” terangnya.

Soal penyelesaian dengan keluarga korban, dia berkomitmen akan melakukannya. Dalam waktu dekat ini pihaknya akan melakukan pendekatan supaya korban bisa pulih dari efek negatif tindakan pegawainya. “Tentu itu akan kami lakukan,” katanya.

Ditanya soal titik permasalahan kasus tersebut, Deden belum bisa memastikan apakah dari Sistem Operasional Procedure (SOP) atau personal pegawai. Karena dia sendiri belum melakukan verifikasi secara mendetail dari kejadian tersebut.

“Perlu kita kroscek dulu, apapun yang jadi permasalahannya akan kita perbaiki,” tuturnya.

Kasus tersebut mengakibatkan adanya gerakan boikot untuk tidak berbelanja ke Indomaret mana pun. Dalam hal ini, Deden belum mengecek ada tidaknya penurunan konsumen namun dipastikan pihaknya mengalami kerugian. “Kalau kerugian pasti ada, khususnya akibat toko yang tutup,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, Branch Manajer PT Indomarco Prismatama Indomaret Bandung Dedi Yusuf Apriadi meminta maaf kepada Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Huda Tasikmalaya KH Asep Maoushul Affandy, keluarga besar Hamida dan keluarga besar santri Pondok Pesantren Miftahul Huda Tasikmalaya. Permintaan maaf itu menyusul kejadian yang dialami salah satu santriwati di Indomaret Manonjaya Rabu lalu (1/1).

“Kami menyesal dan mohon maaf yang sebesar-besarnya atas tindakan karyawan kami,” ujar Dedi kepada wartawan di Kota Tasikmalaya Minggu dini hari (5/1).

Kata dia, tindakan karyawannya di Indomaret Manonjaya tidak sesuai prosedur, sehingga telah menimbulkan kesalahpahaman.
Kata dia, karyawannya pun telah menyampaikan permohonan maaf kepada santriwati tersebut.

“Ini menjadi pelajaran buat seluruh karyawan kami, sehingga dapat melayani dengan penuh keramahan dan sopan dalam bertutur kata membantu konsumen,” ujar dia.

Pihaknya pun akan memberikan sanksi kepada karyawan itu. “Atas kejadian ini sekali lagi kami minta maaf dan mengucapkan terima kasih kepada pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Huda dan Hamida yang telah menerima penjelasan kami,” tambahnya.

Sebelumnya, pengelola Indomaret Area Jawa Barat didesak turun ke Tasikmalaya dan segera memenuhi tuntutan santri dan Pesantren Miftahul Huda Manonjaya. Pihak Indomaret pun didorong segera mengumumkan permintaan maaf di di ruang publik kepada santri yang dituduh mencuri barang serta pondok pesantren. (rga)

Tasikmalaya – Tudingan terjadinya pencurian yang dilakukan salah satu santri wanita (santriwati) oleh karyawan toko modern berjaringan, Indomaret, Manonjaya, Tasikmalaya, Jawa Barat, sempat membuat panas Tasikmalaya.

Ribuan santri turun ke jalan dan berdemonstrasi atas tuduhan tak berdasar itu. Akan tetapi, usai klarifikasi dan mediasi, kasus ini berakhir damai.

Kata damai itu disepakati usai pimpinan PT Indomarco Prismatama Bandung menemui pengasuh utama Ponpes Miftahul Huda, KH Asep Maoshul Affandy, Minggu petang (5/1/2020).

Pertemuan ini merupakan lanjutan penyelesaian persoalan yang dialami salah satu santriwati Miftahul Huda, Manonjaya, yang dituduh mencuri di toko modern berjaringan, Indomart, Rabu (1/1/2020) Lalu.

KH Asep Maoshul Affandy mengatakan, persoalan tudingan itu akhirnya sudah selesai, setelah pihak Indomaret memenuhi seluruh tuntutan pesantren.

“Tapi yang jadi masalah sekarang belum tuntasnya dengan pihak orang tua santriwati, sebab korbannya ini perempuan, jika pencitraan namanya tak diperbaiki kan kasihan juga,” ujar Asep, Minggu (5/1/2020).

Dalam pertemuan yang dilakukan di pesantren milik Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum tersebut, kedua pihak sepakat harus adanya pendekatan dengan keluarga korban, termasuk pemulihan nama baik.

“Apalagi kasus ini kan mencuat dengan cerita yang bermacam-macam lagi bisa positif atau negatif dan sebagainya,” dia menjelaskan.

Dengan tercapainya islah tersebut, Asep mempersilakan toko modern Indomart, Manonjaya membuka usahanya seperti biasa. Namun, nama baik korban pun harus dipulihkan.
Namun begitu, dia menilai tudingan pencurian jelas menjadi preseden buruk buat pesantren dan korban. Terlebih, penggeledahan itu disaksikan oleh warga.

“Kan peristiwa kemarin itu ujug-ujug eksekusi. Seakan-akan dia itu salah. Padahal faktanya tak seperti itu,” dia menegaskan.

Perihal informasi pergerakan massa dari daerah lain dia meminta jangan sampai anarkis. Isunya, alumni Ponpes ini juga bergerak ke Tasikmalaya usai tudingan pencurian tersebut.

“Solidaritas ya silakan saja, karena itu maunya mereka dan kita tak bisa melarangnya. Tapi dalam langkah-langkahnya itu jangan amoral,” dia meminta.

Lycence PT Indomarco Prismatama Bandung, R Deden Mulyadi bersyukur dan mengaku lega setelah pertemuan penting dengan pimpinan Ponpes Miftahul Huda tersebut. Sebagai bagian kesepakatan dari islah, manajemen Indomart siap memenuhi permintaan pihak pesantren untuk merehabilitasi nama korban, meski ide tersebut baru muncul dalam pertemuan itu.

“Kita akan datangi pihak orang tuanya. Dan kita juga akan bangkitkan semangat korban. Karena ada informasi korban sempat down. Pasti kita akan lakukan yang terbaik,” kata Deden.

Seperti diberitakan sebelumnya, ribuan santri Ponpes Miftahul Huda Manonjaya Tasikmalaya berdemonstrasi di halaman waralaba Indomaret Manonjaya, usai salah satu rekannya dituduh mencuri.

Dalam aksi damai itu, mereka menuntut agar manajemen Indomaret menutup toko tersebut. Kedua meminta manajemen Indomaret, meminta maaf secara langsung kepada pihak pesantren dan kepada para santriwati yang menjadi korban.

Terakhir, pihak Indomaret diminta membuat video pernyataan permintaan maaf kepada para santri yang menjadi korban, serta santri Ponpes Miftahul Huda. (l6)