Teror Ular Kobra di Tasikmalaya, Tukang Cendol Tewas, Santri Kesurupan Menari Ular

  • Whatsapp

TASIKMALAYA,JURNALPriangan.com: Teror ular kobra kembali terjadi di Tasikmalaya, sebelumnya tukang cendol di Purbaratu tewas usai dipatuk ular saat nyangkul di sawah, yang terbaru empat santri putri Pondok Pesantren Riyadhul Ulum Mawaddah, Condong, Cibeureum, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, kesurupan. Anehnya dalam kondisi kesurupan mereka menari-nari menirukan gerakan ular sambil meliuk-liukkan badan dengan tangan di atas kepala.

Anehnya setelah kesurupan, santri putra di ponpes yang sama menangkap 17 ekor anak ular kobra yang masuk ke kawasan pondok pesantren.

“Saya juga heran, ada empat santri perempuan yang kesurupan menyerupai tarian ular. Tak berselang lama para santri pria berhasil menangkap 17 ekor ular anak kobra,” jelas Saeful seperti dilansir tribunews.com.

Saeful mengatakan, dirinya tak bisa memastikan apakah insiden itu berkaitan dengan kejadian penangkapan ular yang meneror lingkungan pesantren atau bukan.

Namun, dirinya mengakui bahwa saat ditemukan belasan ular kobra, empat santri perempuannya kesurupan dan berhasil disadarkan kembali.

“Tapi kan kejadian ini tak bisa juga dipastikan berkaitan. Cuma saat penangkapan ular-ular itu, sesaat sebelumnya para santri perempuan ada yang kesurupan tak sadarkan diri menari-nari ular,” tambahnya.

Sementara itu, 17 ekor anak ular kobra ditangkap para santri di Pondok Pesantren Riyadhul Ulum Waddawah, Condong, Cibeureum, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (13/1/2020).

“Awalnya ada satu ekor anak ular Kobra yang ditangkap di depan rumah pengurus pesantren. Kemudian tak berselang lama berhasil ditemukan ular di tempat tidur, dan ruang tamu rumah,” jelas salah satu pengurus pesantren Andi Ibnu Hadi, di lokasi kejadian.

Penangkapan belasan ekor anak ular kobra tersebut dilakukan seorang santri asal Sumatera Barat, Teguh Prayuga (15). Hanya dengan tangan kosong, ular tersebut kemudian dimasukkan ke dalam botol air mineral.

“Saya sudah biasa menangkap berbagai jenis ular di kampung halaman. Kalau di sini kecil-kecil meski jenisnya kobra. Kalau di kampung halaman saya, saya biasa menangkap ular sampai beratnya 15 kilogram,” jelas Teguh yang saat ini duduk di bangku sekolah kelas X Madrasah Aliyah Ponpes Riyadhul Ulum.

Teguh sudah tinggal di Pesantren Condong Tasikmalaya sejak bersekolah di madrasah tsanawiyah atau setingkat SMP setempat.

Penangkapan anak-anak ular kobra tersebut pascakejadian tewasnya seorang kakek akibat terpatuk ular saat mencangkul di sawah belum lama ini. Lokasi pesantren sendiri tak jauh dari lokasi kejadian tewasnya kakek yang kesehariannya berdagang cendol keliling tersebut.

“Awalnya ada satu ekor anak ular Kobra yang ditangkap di depan rumah pengurus pesantren. Kemudian tak berselang lama berhasil ditemukan ular di tempat tidur, dan ruang tamu rumah,” jelas salah satu pengurus pesantren Andi Ibnu Hadi, di lokasi kejadian.

Seorang kakek penjual cendol asal Awiluar, Kelurahan Singkup, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Emuh (74) tewas usai digigit ular di sawah.

Kejadian bermula saat Emuh mencangkul di sawah, Sabtu (11/1/2020) petang. Selain berjualan cendol, Emuh juga memiliki pekerjaan sampingan menggarap sawah milik saudaranya.

Secara tidak sengaja, cangkul Emuh mengenai tubuh ular, sehingga ular tersebut menggigit kakinya di bagian betis kanan.

“Keseharian bapak berjualan es cendol keliling kampung, dan pekerjaan sampingan menjadi petani sesekali bisa mencangkul hingga bapak terkena patukan ular berukuran jempol tangan warna hitam,” ujar anak korban, Jafar, Minggu (12/1/2020).

Jafar yang sempat menemani ayahnya di sawah lalu membawa Emuh ke puskesmas terdekat karena mengalami muntah-muntah. Oleh dokter, kaki Emuh disebut terkena gigitan serangga lalu diberi obat.

“Bapak sudah mendapatkan obat dan dokter memastikan bahwa bengkak pada bagian kaki sebelah kanan akibat dari gigitan serangga,” ungkapnya.

Bukannya mereda, kaki Emuh malah semakin membengkak dan menjadi hitam hingga dirujuk ke RSUS dr Soekardjo. Namun sayang, Emuh akhirnya menghembuskan napas terakhir setelah dua jam dirawat di rumah sakit tersebut.

Jenazah kemudian dipulangkan untuk dimakamkan pada Minggu dini hari.

Atas insiden itu, pihak keluarga mengaku sudah ikhlas dan berpesan kepada warga lain agar selalu waspada.

“Kami ikhlas dan itu adalah musibah. Tapi kepada warga lainnya untuk berhati-hati akan bahayanya patukan ular di lingkungan sekitar,” ujarnya. (tj)