Anggota DPRD Jabar Tetep Abdulatif Prihatin Selama PSBB Daya Beli Warga Tasikmalaya Menurun

  • Whatsapp

TASIKMALAYA, JURNALPriangan.com – Anggota Komisi III DPRD Jawa Barat Drs KH Tetep Abdulatif prihatin selama social distancing pandemi COVID-19 daya beli masyarakat Kota dan Kabupaten Tasimlaya menurun drastis. Tetep mengakui situasi saat ini berbeda drastis dengan situasi sebelum pandemi COVID-19. Banyak dunia usaha yang kolaps, daya beli masyarakat turun, PHK resmi maupun tak resmi, dengan pola karyawan dirumahkan dan ada jutaan jumlahnya.

“Saat ini, orang hanya butuh uang untuk sekadar makan, khususnya di kota dan wilayah urban yang cukup tinggi. Mereka tidak butuh dibelikan modul pelatihan pemerintah terkait Kartu Prakerja, tetapi substitusi atas kehilangan penghasilan karena terkena PHK atau dirumahkan,” katanya Senin (27/4/2020).

Menurutnya, saat ini prioritas utama adalah masyarakat tersubstitusi atas hilangnya mata pencaharian.

Dia memprediksi jumlah orang miskin di Indonesia bertambah akibat pandemi COVID-19 karena banyak masyarakat kehilangan mata pencaharian sebagai dampak dari kebijakan-kebijakan untuk mencegah penyebaran virus tersebut.

“Banyak orang kehilangan pekerjaan dan banyak warung kecil yang tutup. Jadi, jumlah orang miskin pun makin bertambah. Mungkin di sekitar kita juga banyak orang yang terdampak corona ini,” kata Anggota DPRD dari Fraksi PKS ini

Sementara itu berdasarkan data dari BI Cabang Tasikmalay, Indeks harga konsumen pada bulan April di Kota Tasikmalaya tercatat mengalami inflasi 0,13 persen. Angka itu lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya, Maret sebesar 0,317 persen. Tekanan inflasi di Kota Santri ini terutama disebabkan oleh komoditas perhiasan emas, bawang merah, rokok kretek, rokok kretek filter, dan buah anggur.

“Kenaikan harga emas perhiasan yang mencapai 13,58 persen, terjadi seiring dengan kenaikan harga emas dunia dimana pada April kemarin mencapai rata-rata USD1.600 per ons,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tasikmalaya, Heru Saptaji.

Menurut Heru, kenaikan emas kali ini tertinggi dalam 5 tahun terakhir, dampak dari pandemi covid-19 yang meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global.

Dari bahan makanan, lanjut Heri, tekanan inflasi terutama berasal dari kenaikan harga bawang merah yang mencapai 36,85 persen. Kenaikan harga bawang merah disebabkan keterbatasan pasokan karena belum masuknya musim panen.

“Harga gula pasir juga naik dan menyumbang inflasi 0,017 persen akibat keterbatasan pasokan tebu domestik yang sebagian besar baru dijadwalkan panen pada bulan Mei serta terbatasnya impor,” ujar Heru.

Selain terjadi kenaikan harga sejumlah komoditas, penurunan harga juga terjadi yang menyebabkan tertahannya inflasi. Penurunan harga terjadi pada cabai merah, telur ayam ras, daging ayam ras, bawang putih, dan cabai rawit karena tercukupinya pasokan.

Sementara permintaan menurun seiring dengan penurunan konsumsi rumah tangga, seiring dengan penerapan social distancing. (dar)

Pos terkait