jurnalpriangan.com

Thoriqoh Artinya Jalan, Kenapa Harus Berthoriqoh?

Thariqoh artinya: secara bahasa adalah jalan atau metode  untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Adapun menurut istilah thoriqoh adalah cara untuk menempuh jalan kepada Allah, melalui tahapan-tahapan (maqamat). Sebagian besar orang memahami thoriqoh atau tarekat adalah sebuah bimbingan yang dilakykan oleh guru mursyid atau guru rohani untuk mendekatkan kepada Allah SWT.
Menurut Abdul Wadud Kasyful Humam, pada mulanya tarekat adalah bentuk praktik ibadah yang diajarkan secara khusus kepada orang tertentu. Ia memberi contoh bagaimana Nabi Muhammad mengajarkan wirid dan zikir kepada Ali bin Abi Thalib atau sahabatnya yang lain. Selanjutnya,sahabat yang menerima pengajaran ini menyebarkannya sehingga jumlah penerimanya semakin bertambah dan meluas.
Dalam perkembangannya thoriqot kemudian menyebar dan menjadi kekuatan kekuatan sosial yang mewarnai kehidupan Umat Islam dalam menjalankan ajarannya, selanjutnya kumpulan orang yang mencotoh Rosululloh mengajarkan dzikir kepada Ali Bin Abi Thalib itu menjadi sebuah perkumpulan khusus atau lahir sebagai sebuah perkumpulan thariqat.
Orientalis Barat  J. Spencer Trimingham menulis dalam bukunya The Sufi Order in Islam mengatakan bahwa tarekat mulanya hanya metode gradual mistisisme kontemplatif dan pelepasan diri.

Kenapa Harus Berthoriqoh?

Sebagian kelompoh membidahkan bahkan mengharamkan orang berthoriqoh. Alasan mereka  tidak ada dalam quran dan Hadistnya. Dalil kenapa kita harus berthoriqoh adalah QS Al-Jin ayat 16.

“jikalau mereka tetap istiqomah di jalan itu, niscaya Kami akan benar-benar memberi minum kepada mereka air yang segar,” (Qs. Al-Jinn: 16).

Memang ada perbedaan pendapat dalam menafsirkan kata  jalan yang tertera dalam ayat al-Quran tersebut. Jalan yang dalam bahasa Arab Althariqoh atau Tarekat. Artinya, umat manusia yang istiqomah menjalankan Tarekat, yaitu jalan yang sudah ditentukan dan ditetapkan Allah, seperti mengikuti seluruh syariat agama, taat kepada semua perintah, dan menjauhi semua larangan, maka Allah akan melimpahkan pahala yang besar, yang bermanfaat di dunia dan akhirat.

Imam at-Thabari dalam Tafsir ath-Thabari menafsiri kata ath-Thariqoh dalam ayat surat al-Jinn tersebut sebagai Thariqotul Haqq wal Istiqomah (Jalan Kebenaran dan Jalan Istiqomah). Ibnu Abbas ra menafsirinya sebagai ath-Tha’ah (Jalan Ketaatan). Bagi Mujahid, Thariqotul Islam (Jalan Agama Islam) dan Thariqatul Haqq (Jalan Kebenaran). (At-Thabari, Tafsir ath-Thabari, 573).

Dalil pentingnya bertarekat adalah sesuai Hadits Nabi Muhammad Saw :

الشَّريعَةُ أقوالي ، وَالطَّريقَةُ أفعالي ، وَالحَقيقَةُ أحوالي، وَالمَعرِفَةُ رَأسُ مالي ، وَالعَقلُ أصلُ ديني ، وَالحُبُّ أساسي ، وَالشَّوقُ مَركَبي

Artinya : “Syari’at itu ucapanku, thoriqot itu perbuatanku, hakikat itu keadaanku dan ma’rifat itu puncak kekayaan (bathinku), akal itu pondasi agamaku , Cinta itu pijakanku dan rindu itu kendaraanku”.

Sayyidina Ali pernah ditanya oleh salah seorang shahabat :

“ Apa anda pernah melihat Tuhan ? ”

Jawab Ali :
“Bagaimana aku menyembah kepada yang tidak pernah aku lihat,”.

“ Bagaimana anda melihat-Nya ? ” tanyanya kembali.

Ali pun menjawab : “Dia tidak bisa dilihat oleh mata dengan pandangannya yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati dengan hakikat keimanan.”

Riwayat ini juga mempertegas betapa pentingnya hati bagi para pencari sang pencipta Allah SWT kesucian jiwa  berarti ini juga bagiannya thoriqoh.

Ada sebuah nasihat Imam Syafi’i yang patut dijadikan renungan :

“Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tashawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.

Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak menjalani tashawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan lezatnya taqwa dan manisnya taat kepada Allah. Sedangkan orang yang hanya menjalani tashawuf tapi tidak mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik dan
Ingin mencapai kesempurnaan dalam ibadah…?

Dengan thoriqoh inilah seorang muslim berusaha mencapai kesempurnaan dalam beribadah kepada Allah, termasuk berusaha bagaimana agar mampu beribadah seakan-akan melihat-Nya dan berusaha agar selalu bersama-Nya setiap saat dimana saja dan kapan saja. Tentunya seseorang tidak akan mampu mencapai kesempurnaan dan kenikmatan beragama secara kaffah tanpa mengamalkan tauhid, fiqih, dan tashawuf secara baik dan benar.

Tiga Alasan Harus Bertasawuf

Prof Dr H Mukhtar Solihin Guru Besar bidang Tasawuf UIN Sunan Gunung Djati Bandung memaparkan tiga alasan kenapa kita harusbertarekat. Menurut dia Pertama, tasawuf merupakan basis fitri setiap manusia. Ia merupakan potensi Ilahiyah yang berfungsi mendesain peradaban dunia. Tasawuf dapat mewarnai segala aktivitas sosial, politik, ekonomi dan kebudayaan.

Kedua, tasawuf berfungsi sebagai alat pengendali, agar dimensi kemanusiaan tidak ternodai oleh modernisasi yang mengarah dekadensi moral dan anomali nilai, sehingga tasawuf mengantarkan pada “supreme morality” (keunggulan moral).

Ketiga, tasawuf relevansi dengan problem manusia, karena tasawuf secara seimbang memberi kesejukan batin dan disiplin syariah sekaligus. Selain itu, tasawuf dapat membentuk tingkah laku melalui pendekatan tasawuf suluki, dan dapat memuaskan dahaga intelektual melalui pendekatan tasawuf falsafi. Ia bisa diamalkan tiap muslim lapisan manapun. Secara fisik mereka menghadap satu arah (Ka’bah), dan secara rohaniah mereka berlomba menempuh jalan (tarekat) melewati ahwal dan maqam menuju Tuhan yang Satu, Allah SWT.

Kenapa Harus Berthoriqoh ini Kata Habib Luthfi

Dalam Al-Quran ada ayat yang artinya, “Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampunimu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran: 31).
Ketika ayat inl turun, seorang sahabat bertanya kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, bilamana aku menjadi mukmin sesungguhnya?
Baginda Nabi SAW menjawab, “Apa-bila engkau mencintai Allah. Mencintai Rasul-Nya. Berikutnya mengikuti sunnah-sunnahnya, dan mencintai orang yang di-cintai Allah dan Rasul-Nya. Dan keimanan mereka itu bertingkat-tingkat menurut tingkatan kecintaan kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW mengulangi kalimat yang terakhir sampai tiga kali. Lalu beliau kembali bersabda, “Kadar bobot iman se¬seorang tergantung pada kecintaannya kepadaku. Sebaliknya kadar kekafiran seseorang juga tergantung pada kebenci-annya kepadaku.”

Jadi, kalau kecintaannya kepada Rasulullah SAW bertambah, kecintaan dan keimananya kepada Allah SWT pun akan ber¬tambah. Bertambah dalam arti bersinar, bercahaya, dan semakin menerangi hidupnya.
Demikianlah Allah SWT mengajarkan kepada kita cara mencintaiNya. Kecintaan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya tidak bias dipisahkan. Kalau seseorang mencin¬tai Allah, la juga mencintai Nabi-Nya. la akan menjalankan sunnah serta mencintai orang yang dicintaj Rasul-Nya.

Siapakah orang-orang yang dicintai Rasul-Nya? Tidak lain adalah para pewaris
nya, yaitupara ulama, orang-orang shalih, termasuk para mursyid. Merekalah yang senantiasa menapaki jejak Rasulullah SAW, mengikuti sunnah-sunnahnya.

Sementara itu, keimanan terbentuk secara terbimbing. Nah, di situlah peran para mursyid. Melalui bimbingannya, kita meningkatkan tauhid dan ma’rifat kita kepada Allah SWT.

Lalu, bagaimana dengan orangyang tidakberthariqah? Sebelumnya, perlu di-ketahui bahwa orang yang ingin bertha-riqah, teriebih dahulu harus memahami syari’at dan mefaksanakannya. Artinya, kewajiban-kewajiban yang harus dimengerti oleh setiap individu sudah dipahaminya. Di antaranya, memahami hak Allah SWT dan hak para rasul.

Setelah mengenal Allah SWT dan Rasul-Nya, kita meyakini apa yang di-sampaikannya. Seperti rukun Islam, yaitu membaca syahadat, mengerjakan shalat, melaksanakan puasa, berzakat bag! yang cukup syaratnya, serta naik haji bagi yang mampu. Begitu juga kita mengetahui arkanui iman (rukun Iman) serta beberapa tuntunan Islam lalnnya, seperti shalat, wudhu’, dan Iain-Iain.

Orang yang menempuh jalan kepada Allah SWT secara sendirian tentu berbeda dengan orang yang menempuh jalan kepada Allah SWTbersama-sama dengan orang lain, yaitu mursyid.

Kalau mau menuju Makkah, sebagai satu contoh, seseorang yang belum mengenal Makkah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawwarah tentu berbeda dengan orang yang datang ke dua tem-pat tersebut dengan disertai pembimbing atau mursyid.
Orang yang tidak mengenal sama sekalikedua tempatitu, karena meyakini berdasarkan informasi dan kemampuan-nya, sah-sah saja.

Namun orang yang disertai pembimbing akan lebih runtut dan sempurna, karena si pembimbing tadi sudah berpengalaman dan akan mengantar ke rukun Yamani, sumur zamzam, maqam Ibrahim, dan Iain-Iain. Meski seseorang itu sudah sampai di Ka’bah, kalau tidak tahu rukun zamani, la tidak akan mampu memulai thawaf, karena tidak tahu bagaimana memulai-nya. Itulah perbedaannya. (*)

Exit mobile version