Kisah Mahmud J Al Maghribi Mencari Guru Mursyid Setelah Abah Anom Wafat

  • Whatsapp

Cerita ini aku awali dengan pertanyaan, Mengapa Aku Mengikuti Dia?

Setelah berpulangnya pengersa Abah Anom, Syekh Shohibulwafa’ Tajul Arifin, ra. Mursyid Thoriqoh Qoodiriyyah wa Naqsyabandiyyah Pondok Pesantren Suryalaya silsilah ke 37 ke haribaan Allah SWT., pada tanggal 05 September 2011 dalam usia 96 tahun. Sejak itu saya selalu mencari dan menduga-duga siapakah yang menjadi Penerus Abah selaku Mursyid TQN PP Suryalaya silsilah yang ke 38 ? Pertanyaan ini sebenarnya juga menjadi pertanyaan dari seluruh Murid TQN PP Suryalaya, mengapa? Karena pengersa Abah Anom tidak meninggalkan wasiat (sebagai bukti majazi) tentang siapa yang menjadi penerus beliau.

Kisah ini bermula dari munculnya fenomena kemursyidan di TQN PP Suryalaya, terutama sejak Ajengan Gaos menceritakan perjalanan beliau selama 43 tahun bersama dengan pengersa Abah Anom yang disampaikan pada tanggal 11 Sya’ban 1433 H di Masjid Nurul Asror Ponpes Suryalaya. Adanya fenomena ini mengingatkan saya akan peristiwa pada hari Sabtu, 18 Juni 2011 disaat saya mengikuti Manaqib Tuan Syekh Abdul Qodir al Jaelani qs. di Masjid Agung Istiqlal Jakarta. Pada saat itu setelah selesai acara manaqib, ketika akan talqin, saya terkejut melihat pengersa Ajengan Gaos, beliau terlihat sangat tua sekali, tidak seperti biasanya. Melihat ini hatiku membatin, apakah ini sebagai pertanda bahwa beliau sudah siap menggantikan pengersa Abah Anom ?

Read More

Kemudian juga saya teringat kembali peristiwa beberapa tahun silam, tepatnya tahun 2003 saat Manaqib di Masjid An Nur Perumnas 3 Kota Tangerang. Manaqib hari itu dihadiri oleh dua orang Wakil Talqin; KH. Zezen Bazul Asyhab (Ajengan Zezen) pengasuh Ponpes Azzainiyyah dari Sukabumi dan KH. Raden Ahmad Rohim Mahmud dari Cirebon (cucu Syekh Tolhah). Ketika sesi tanya jawab, saya menanyakan tentang Tata Cara Shalat Hajat Khusus Tuan Syekh di dalam Manqobah kepada Ajengan Zezen. Namun ajengan Zezen mempersilahkan saya untuk bertanya kepada pengersa Ajengan Gaos saja (KH. Muhammad Abdul Gaos Saefullah Maslul pengasuh Pesantren Sirnarasa Panjalu, Ciamis/Wakil Talqin Abah Anom) karena beliau tidak mengamalkan shalat tersebut, sebab yang beliau amalkan shalat hajatnya Al Imam Ghazali yang 12 rakaat. Atau kepada pengersa Aang Cianjur, karena dibidang rasa beliau masih dalam bimbingan pengersa Aang Cianjur (KH. Muhaeminul Aziz), Pengasuh Ponpes Darul Falah/Wakil Talqin Abah Anom dari Cianjur.

Pada manaqib bulan berikutnya ditempat yang sama, yaitu di Masjid An-Nur Perumnas 3 dihadiri oleh pengersa Ajengan Gaos. Sehingga pada kesempatan itu saya kembali menanyakan tentang tata cara shalat hajat tersebut kepada beliau sebagaimana arahan ajengan Zezen, saya sampaikan bahwa saya diarahkan oleh ajengan Zezen agar bertanya kepada beliau saja. Setelah saya sampaikan demikian, beliau agak sedikit terkejut, “Oh begitu”, oh iya, pertanyaan itu sudah tepat diajukan ke saya, karena kitabnya sudah diserahkan pengersa Abah ke saya”. Kemudian beliau menjelaskan tata cara shalat tersebut. Sebenarnya yang saya ingin tahu adalah penjelasan tentang mengapa harus menghadap dan menyebut nama Tuan Syekh? Namun pertanyaan ini tidak saya lantorkan, karena rasanya kurang etis. Eh! ternyata beliau menjawab, “Ingat niatnya untuk ziaroh”. Jawaban beliau itulah sebenarnya yang saya butuhkan, padahal tidak saya tanyakan.

Sebelumnya, sebelum tanggal 11 Sya’ban 1434 H, saya menghadiri Manaqib Tuan Syekh Abdul Qodir Jaelani qs. yang pertama di Ponpes Jagat ‘Arsy, Manaqib ini dibuka oleh pengersa Ajengan Gaos. Pada saat itu beliau menyampaikan bahwa, “Tidak ada yang bisa mendikte saya kecuali Guru saya. Saya tidak akan bergeser semilimeterpun dari kloter 37″. Saya katakan di Suryalaya, kalau dengan isyarat tidak mengerti, dengan mulut tidak mengerti, nihhh”! Sambil beliau mengacungkan kepalan tangan beliau ke atas. “Kalau mau pukul saya, pukullah angin. Kalau mau tebas saya, tebaslah air”. Sekarang saya sudah memiliki ketetapan hati, tunggu tanggal 11 bulan Sya’ban”.

Kemudian saya melihat ceramah beliau yang diunggah di Youtube : http://mahmudjonsen.blogspot.com/2013/04/manaqib-di-masjid-istiqlal-kh-muhammad.html Beliau mengatakan, “Pengersa Abah menetapkan penerusnya pada tahun 1957. Makanya saya katakan pengersa Abah tidak menurunkan Qirqoh Kemursyidan kepada para Wakil Talqin. Siapa saja yang mengaku Mursyid TQN Pondok Pesantren Suryalaya, Bukan, titik!”.

Menanggapi fenomena ini, pihak Ponpes Suryalaya dan Yayasan Serba Bakti PPS, serta sebagian besar wakil talqin mengeluarkan Ijma I : http://www.suryalaya.org/ver2/berita.html Dengan adanya Ijma ini kemudian saya berusaha mencari lagi informasi-informasi, baik secara majazi maupun secara hakiki, tentang pengersa Ajengan Gaos. Dari pencarian tersebut saya mendapati bahwa, perkataan-perkataan pengersa Ajengan Gaos sekarang yang sering beliau ucapkan ternyata bukanlah hal baru, sebab ucapan-ucapan ini ternyata sudah diucapkan sejak dulu, sejak pengersa Abah Anom masih ada. Diantaranya dapat didengarkan di : http://www.index-of-mp3s.com/download/mp3/lagu/id/7f28ed3b/kh-abdul-gaos/

Dari hasil pencarian tersebut, akhirnya saya mengambil suatu kesimpulan bahwa, pengersa Abah Gaos, Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefullah Maslul ra. adalah penerus pengersa Abah Anom, Syekh Ahmad Shohibulwafa’ Tajul Arifin ra., selaku Mursyid Thoriqoh Qoodiriyyah wa Naqsyabandiyyah Pondok Pesantren Suryalaya silsilah ke 38. Hal ini saya tuangkan dalam tulisan : http://mahmudjonsen.blogspot.com/2013/08/cahaya-yang-tak-pernah-padam.html Sejak tulisan ini dibuatlah saya mempunyai ketetapan hati yang kuat dengan mengakui beliau dan menyambung ruhani saya kepada para ahli silsilah melalui beliau. Alhamdulillaah. Kemudian saya mengungkapkan pendapat dalam tulisan : http://mahmudjonsen.blogspot.com/2013/09/sekelumit-renungan.html tulisan ini adalah murni pendapat dan renungan saya pribadi.

Selanjutnya menyusul kemudian dikeluarkannya himbauan-himbauan dari PP Suryalaya, yakni Ijma jilid II : http://www.suryalaya.org/ver2/berita.html dan Ijma yang di SK-kan : http://www.suryalaya.org/ver2/berita.html . Alhamdulillah, saya tidak bergeser semilimeterpun dari pengersa Abah Gaos. Malahan saya semakin mencari informasi agar dapat lebih dekat ke pengersa Abah Gaos, dan akhirnya saya mendapat informasi tentang adanya training Da’i di Ponpes Jagat ‘Arsy, syukur alhamdulillah akhirnya saya dapat mengikuti Training Da’i/Da’iyah Brigade 38 dalam rangka mengamalkan, mengamankan, dan melestarikan Thoriqoh Qoodiriyyah wa Naqsyabandiyyah Pondok Pesantren Suryalaya, yang diselenggarakan di Madrasah TQN PP Suryalaya Pondok Pesantren Internasional Jagat ‘Arsy. Mula-mula saya tidak bisa menjadi peserta, karena peserta dibatasi (sudah penuh). Namun beberapa hari kemudian, tepatnya sehari sebelum pelaksanaan training, saya mendapat SMS yang isinya : “Kalau bapak mau ikut ditungu besok check in jam 07.00 pagi”. Alhamdulillah.

Saya bersyukur kepada Allah SWT. atas limpahan rahmat dan karuniaNya ini melalui baroqah karomah pengersa Abah Gaos. Saya menyadari semua ini adalah semata-mata atas pertolongan Allah SWT. Saya tidak merasa sombong dengan anugerah ini, saya berpendapat bahwa para murid pengersa Abah Anom terbagi menjadi tiga golongan menyikapi hal ini, sebagaimana yang saya tuangkan dalam tulisan ini

SumberĀ  http://mahmudjonsen.blogspot.com/2013/10/perjalanan-murid-mencari-guru.html

Related posts