Gantung Mic Istirahat Ceramah, KH Jujun Junaedi Malah Dapat Uang Rp 7 Miliar

GARUT, JURNALPriangan. Dai kondang KH Jujun Junaedi sudah dua tahun gantung mic atau membatasi ceramah di panggung. Alasannya selain karena kesehatan, dia ingin fokus mengurus santri di Ponpes Al-Jauhari, Garut. Kini santri di Ponpes Al-Jahuari sudah mencapai 3 ribu orang.

“Sudah dua tahun saya sila (duduk) di pesantren, ini diluar logika. Istiqomah nurut kepada Mursyid Abah Aos malah mendapat berkah luar biasa, dapat uang Rp 7 milar dan berhasil membebaskan tanah untuk pesantren,” katanya saat menyampaikan Khdimat Ilmiah pada manaqiban di Ponpes Sirnarasa Dusun Ciceuri Desa Ciomas Kabupaten Ciamis (17/12/2021).

Bacaan Lainnya

KH Jujun yang juga Wakil Talqin TQN PP Suryalaya diperintahkan oleh gurunya, Syekh Muhammad Abdul Gaos SM agar fokus mengurus santri saja. Pertimbangannya karena kesehatan dan agar pesantren lebih terurus. ” “Makanya harus nurut kepada guru, yang mau lunas hutang datang saja ke Sirnarasa karena Abah Aos menyuruh untuk mendekat kepada Yang Maha Segalanya. Jangan dipikirin tapi didzikiran. Dzikir terus, lagi berdiri dzikir yang punya masalah datang saja ke Sirnarasa,” katanya.

Baca juga: KH Jujun Junaedi Istirahat Ceramah Karena Kondisi Kesehatan Menurun

Jujun juga menyingung  dahsyatnya dzikir  daripada  berpikir dahulu saat menghadapi masalah. Sedang bankrut dzikir dulu baru berpikir. Ini akhlakul karimah Guru Mursyid. Jujun menekankan dalam menjalani kehidupan ini keduanya hasrus seimbang  “Keduanya memang harus seimbang, tapi berzikir harus lebih dulu, baru berpikir,” kata  dosen UIN Bandung ini

“Dia juga mengatakan orang yang selalu mengandalkan logika tanpa dibarengi  berzikir hidupnya tak akan terkendali. Karena di dalam Al-Qur’an panduannya zikir dulu terus mikir, maka pemikirannya mengerucut pada ayat ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia,” katanya mengutip QS. Ali Imran.

Makin pandai ingin mendekat kepada Allah, kata Jujun, maka makin tawadu kepada Allah “Jadi makin gelarnya tinggi, makin taat kepada Allah,” ungkapnya.

Orang asli Garut ini juga menjelaskan orang yang berilmu tinggi atau ulil albab yakni orang-orang yang senantiasa mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring.

Menurut Ajengan Jujun, berthoriqoh memang harus nurut kepada mursyid. Dia membandingkan orang  bodoh yang nurut kepada guru tidak mengikuti hawa nafsunya lebiha baik dari pada orang pintar yang mengikuti hawa nafsunya. (rid)

Pos terkait