Rebutan Bayi di Tasikmalaya Berakhir Banjir Air Mata

foto tribunjabar.com

JURNALPRIANGAN.COM-Akhirnya keinginan Unung Siti Zaenab (43) warga Desa Cisaruni, Kecamatan Padakembang, Kabupaten Tasikmalaya untuk kembali merawat bayinya terkabul. Bayi itu diserahkan kembali oleh kerabatnya yang mengasuh selama dua bulan.

Dilansir dari Tribunjabar, penyerahan bayi itu dilakukan pada Kamis (17/2) siang di kantor KPID Kabupaten Tasikmalaya.

Suasana haru sangat terasa saat rombongan pembawa bayi tiba di kantor KPAID di Jalan Pageningan, Kecamatan Cisayong.

Bacaan Lainnya

Unung Siti Zaenab dan Pipin yang telah dulu menunggu, tampak tak gelisah. Sesekali dia menengok keluar namun rombongan itu belum datang juga.

Sementara pihak KPID yang siap menjemput menelpon rombongan yang sudah masuk Kota Tasikmalaya dari Padakembang Kabupaten Tasikmalaya.

Sekitar 15 menit rombongan datang, setelah basa-basi penyerahan. Begitu bayi itu diserahkan ke Unung sang bayi didekap lalu dicium disertai derai tangis mengharukan. “Deudeuh teuing, sejak lahir saya tak pernah menyusuinya. Kasihan,” ujarnya.

Baca juga:   Jumlah Janda di Kota Tasikmalaya Naik Tajam, Penyebabnya Selingkuh

Sementara itu sang suami Pipin, membelai-belai darah dagingnya. “Alhamdulillah, tidak menyangka bisa secepat ini bisa bertemu,” ujarnya.

Menurutnya, sejak bayi yang dilahirkan istrinya dua bulan lalu dibawa kerabatnya, hilang sudah harapan bisa membawa kembali sang buah hati.

Namun, pihak kerabat justru meminta ganti rugi atau uang tebusan untuk biaya perawatan selama dua bulan dengan total Rp 25,3 juta.

Mengatahui hal tersebut, pihak KPAID Kabupaten Tasikmalaya akhirnya turun tangan, dan berhasil membawa kembali bayi laki-laki itu. Mulanya, tak lama usai persalinan, bayi Unung dibawa kerabat mereka pasangan suami istri A dan D.

Baca juga:   15 Ular Kobra Teror Warga Tasik, Suami-isteri Ngungsi di Mertua

Unung mengaku ia dan suaminya tak berniat menyerahkan anak mereka ke kerabat. Karena mereka mengira, A dan D hanya sementara merawat bayi mereka untuk pancingan.

Pasalnya, A dan D mengaku akan merawat bayi untuk pancingan agar mereka segera memiliki keturunan. Terlebih A dan D juga sempat memberikan uang Rp 1 juta. “Katanya untuk uang penyeumpal (mengambil bayi). Saya tak curiga apa-apa, diambil saja,” beber Unung.

“Saya baru sadar pagi harinya karena bayi saya tidak ada,” imbuhnya. Saat dalam kondisi lemah keluarga D datang dan menyodorkan surat bermaterei.

Tanpa sempat membaca surat itu, Unung pun membubuhkan tanda tangannya. Belakangan diketahui surat tersebut ternyata berisi surat pernyataan pengalihan hak asuh anak.

(*)

Pos terkait