Cerita Murid Pangersa Abah Aos Berpuasa di Mesir Saat Pandemi Covid-19

Ridwan Fauzi (22) mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo Mesir asal Ciamis Jawa Barat menceritakan pengalaman menarik berpuasa di Kota Kairo, Mesir. Ridwan yang juga ikhwan TQN PP Suryalaya-Sirnarasa ini sudah tiga tahun menempuh pendidikan di sana.

Ridwan kini tinggal di Kairo, menempuh studi S1 jurusan Bahasa Arab

Putera pertama pasangan Dadang Abdul Rasyid dan Nursaadah ini sebelum berangkat ke Mesir shohbah dulu ke pangersa Abah Aos di Pesantren Sirnarasa. Ketika itu pangersa Abah bilang.

Bacaan Lainnya

“Mau nuntut ilmu di mana saja boleh, kamu pokokna geus diditu (Mesir),” kata pangersa Abah Aos.

Menurut ceritanya, bulan Suci Ramadan di Mesir disambut meriah oleh masyarakat.
Di bulan Ramadan, aura-aura negatif yang ada sebelum Ramadan tiba hilang.

Orang-orang baik sangat terlihat, lantaran tak ada lagi yang teriak-teriak dan mudah marah di bulan Ramadan.

“Puasa dari pukul 03.20 CLT (Cairo Local Time) sampai dengan 18.41. Dan biasanya setiap harinya
akan berubah subuh lebih cepat dan maghrib akan lebih lama,” katanya kepada jurnalpriangan.com.

Suasana Bulan Suci Ramadan di Indonesia dan Mesir kurang lebih hampir sama. Karena di Mesir
suasana bulan Ramadan mirip-mirip di Indonesia.

Mungkin yang sedikit berbeda, lanjut Ridwan bercerita, di Mesir orang-orang baik sangat kelihatan ketika Bulan Suci Ramadan tiba.

“Seakan sebelum bulan Ramadan, jika ada aura-aura negatif, di bulan Ramadan semua kelihatan positif.

Banyak yang membagikan ta’jil (Buka Puasa), banyak juga yang berinfak, bahkan tidak jarang
mahasiswa mahasiswi kita diberikan uang santunan berupa uang tunai,” katanya.

Aura negatif yang dimaksud Ridwan di sini yaitu kondisi sebelum bulan Ramadan. Tak jarang dirinya
melihat banyak orang yang teriak-teriak, banyak yang cepat marah dan lain sebagainya.

“Alhamdulillah di bulan Ramadan, semua terlihat adem dan tenang,” kata Ridwan¬† menjelaskan.

Kebiasaan masyarakat Mesir merayakan bulan suci Ramadan dengan menggantung lampu di teras-
teras rumah.

Sehingga bulan Ramadan selalu berlangsung meriah dengan warna kelap kelip lampu yang bermacam-macam di rumah-rumah warga, yang biasa dinikmati Ridwan

Selain itu, di bulan Ramadan, warga Mesir biasanya menyediakan makanan di meja-meja dekat dengan
masjid atau tempat keramaian. Makanan-makanan tersebut disediakan gratis untuk berbuka puasa.

Baca: MUI: Salat Id Lewat Saluran Live Streaming Tidak Sah

Di jalan raya, lanjut Ridwan bercerita, kita bisa melihat orang berlomba-lomba memberikan sajian berbuka
berupa kurma, air mineral, jus dan lain sebagainya.

Sajian berbuka itu diberikan kepada para
pengendara motor, mobil dan transportasi umum yang melintas.

“Di dekat-dekat masjid biasanya akan terbentang meja-meja yang sudah dihidangkan makanan berupa
nasi ayam atau daging yang dimasak seenak mungkin, kita tinggal duduk makan selesai,” kata¬† Ridwan

“Namun karena masa pandemi, dan dilarangnya ada keramaian. Jadinya tahun ini tidak ada. Tapi lebih
ke mengantarnya ke tetangga terdekat,” tambah Ridwan menjelaskan.

Ketika Salat Tarawih dan Qiyamul Lail, pihak Al Azhar selalu menghadirkan Imam dari Al Azhar dan beberapa jama’ah dalam siaran.

“Sehingga warga Mesir danwarga asing merasa bertambah semangat, terutama di 10 hari terakhir ramadhan ini,” jelas Ridwan

Ridwan menjelaskan, berpuasa di Mesir di tengah situasi Covid-19 memberinya satu hikmah tersendiri.

“Selain kita menjaga hati, tubuh kita dengan puasa. Di masa pandemi ini kita lebih menjaga kebersihan,
dengan lebih sering mencuci tangan. Dan juga berusaha hidup lebih sehat,” sambungnya.

Selain itu, untuk mengobati rindu dengan handai taulan di Indonesia, Ridwan kini tak perlu merasa cemas.

Berkat perkembangan teknologi, ia biasanya melakukan video call dengan keluarganya di Tanah
Air.

Pos terkait