Desa Pamokolan Sentra Kue Semprong di Ciamis

  • Whatsapp

CIAMIS, JP.COM-Desa Pamokolan Kecamatan Cihaurbeuti Ciamis bisa dibilang sebagai salah satu pusat Usaha Kecil Menengah (UKM) makanan olahan di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Porduk yang terkenal adalah kue semprong.

Selain kue semprong, ada juga aneka makanan yang diproduksi warga adalah, kue pilus,  bolu, saroja dan aneka makanan khas Ciamis lainnya. Sedangkan jaringan pemasarannya meliputi wilayah Pulau Jawa dan Sumatera.

Salah satu pabrik kue semprong adalah Rahmat Jaya, kue semprong buatan RJ rasanya beda dengan yang lain, renyah dan maknyos. Rahmat, pemilik UKM Rahmat Jaya mengakui kue semprong hasil produksinya diterima pasar.

“Alhamdulillah produk kami sudah masuk supermarket di Bandung dan Jakarta,” kata Rahmat.

Selain Rahmat Jaya, ada sekitar 10 pabrik kue semprong di Desa Pamokolan. Keahlian membuat kue semprong tersebut secara turun temurun. Hal ini diakui Kepala Desa Pamokolan  Drs. Aon Nurhakim mengatakan, warga Pamokolan sudah zaman dahulu bikin kue semprong. Bahkan roda perekonomian masyarakat dari adanya industri kue itu.

Salah satu bandar kue di Desa Pamokolan adalah  H Opon warga Kampung Pasajen dia adalah pemasok aneka kue kering untuk wilayah Priangan Timur. Dia memulianya dari awal. Dari hanya membawa lima bungkus aneka kue lima bungkus dengan keliling, hingga kini punya sebuah grosir oleh oleh di Kecamatan Ciawi dan Sindangkasih. Kini omzet perbulannya mencapai Rp 700 juta. Padahal dia tak pernah lulus SD.

“Dagang itu ilmunya adalah pengalaman, bukan banyak teori. Anak-anak sekarang mah ngakunya sarjana ekonomi tahu ilmu pemasaran tapi prakteknya nol besar,” kata dia.

Bukan hanya H Opon, pemilik Rumah Makan Mie Baso SR di Jalan Layang Rajapolah-Tasikmalaya itu berasal dari Desa Pamokolan. Ya, namanya H Odin Saefudin, dia adalah perajin sistik dan kue semprong. Punya pabrik yang memperkerjakan 400 karyawan. Sukses di bidang makanan ringan H Odin memperluas jaringan bisnisnya dengan membuka rumah makan bakso yang tersebar di Ciamis dan Tasikmalaya. “Saya juga tidak sekolah tinggi, sebab dagang itu adalah pengalaman dan keberanian,” katanya.

Ketika ditanya Omzet, dengan nada merendah H Odin mengatakan tidak ada apa-apanya dibanding pengusaha kuliner lain. Namun dia tak mengelak ketika disebutkan angka satu miliar perbulan. “Ya memang kadang sampai di angka segitu,” katanya. Bisa jadi memang omzetnya satu miliar sebab bidang usahanya sekarang sudah besar. Selain rumah makan juga ada travel wisata.

Ternyata modal mereka untuk sukses adalah kerja keras dan keberanian. Disamping doa. Para pelaku UKM di Desa Pamokolan juga sangat mandiri, sebab tak pernah dibantu oleh bank dan pemerintah. Sebab biasanya pemerintah hanya bisa menjual atau mengatasnamakan UKM saja untuk kepentingan pribadi. “Misalnya ada bantuan ya disunatdinas oleh orang kecamatan dan , pinjaman lbank pun kecil dan banyak aturannya,” kata Acep salah seorang perajin bolu.

Memang benar adanya, pelaku UKM di Desa Pamokolan tersebut mandiri. Mereka lebih rela menjual sawah untuk modal daripada pinjam ke bank dengan bunga tinggi. Menngenai bantuan UKM dari pemerintah Kabupaten Ciamis, perajin di Pamolan tak pernah mengaksesnya. “Saya menganggap bantuan itu kotor, orang dinas sering minta bagian. Sampai saat ini saya tak percaya dengan orang dinas,” kata Enceng. (deden)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *