Persitas Menuju Juara, Stadion Mangunreja Bagaimana?

  • Whatsapp

TASIKMALAYA-Persitas Kab Tasikmalaya bakal berlaga di Liga 3 Zona Nasional. Manajemen kini sedang berusaha untuk menggalang dana. Salah satunya menjajaki sponsorsip dari perusahaan angkutan. Ketua DPRD Kabupaten Tasikmalaya pun ikut turun tangan, melobi Grup Mayasari. Di tengah semangat menghadapi laga, Persitas belum punya stadion refsentatif.

Stadion Mangunreja yang direncanakan bertaraf international malah mangkrak. Publik sepakbola Tasikmalaya pun kecewa. Wakil Ketua Pengcab PSSI Kabupaten Tasikmalaya, Asep Dzulfikri mengungkapkan kekecewaannya

Muat Lebih

Stadion yang mulai dibangun pada masa bupati Uu Ruzhanul Ulum (wakil Gubernur Jawa Barat) ini belum jelas kapan pembangunanya dilanjurkan. Meskipun belum punya stadion tapi Persitas tetap bangkit menatap liga 3 Nasional yang bakal digelar akhir bulan ini

Pengcab PSSI Kabupaten Tasikmalaya hanya bisa berharap pemerintah daerah menyiapkan anggaran dan mencari anggaran untuk penyelesaian stadion. Mengingat setelah stadion Wiradadaha diberikan kepada Pemkot Tasikmalaya, otomatis Kabupaten Tasikmalaya tidak memiliki stadion. “Tidak adanya sarana prasarna jangan harap muncul bibit atlet sepakbola yang handal dari Kabupaten Tasikmalaya. Karena memang kondisinya seperti ini, ” papar Asep.

Kalaupun ada aktivitas ataupun kompetisi yang diurus oleh PSSI Pengcab Kabupaten Tasikmalaya, kata Asep, pihaknya terpaksa meminjam stadion Wiradadaha. “Otomatis kita harus menyewa, karena itu sudah milik Pemkot Tasik. Ini harus difikirkan oleh pemerintah karena menyangkut masa depan dunia Sepakbola Kabupaten Tasikmalaya,” pungkas Asep.

Pengelolaan yang buruk dan manajemen yang tak serius jadi jadi penyebab Stadion Mangunreja  mangkraknya penyelesaian proyek tersebut. Kemudian muncul ketidakjelasan sumber pembiayaan dan kucuran dana guna penyelesaian stadion yang diduga untuk kepentingan lain.

Persoalan mangkraknya stadion mengemuka saat Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya menyebut sumber dana pembangunannya berasal dari Pemerintah Provinisi Jawa Barat. Namun Pemprov melalui Sekretaris Daerah Iwa Karniwa justru menyebut pembiayaan murni dari APBD Kabupaten Tasikmalaya.

Bupati Tasikmalaya Ade Sugianto membenarkan dana pembangunan dari Pemprov Jabar. “Ada dari Pemprov seingat saya,” kata Ade dalam pesan WhatsApp kepada Pikiran Rakyat, Kamis 3 Januari 2019. Mesk tak hafal terlalu rinci, Ade memperkirakan, anggaran pembangunan mencapai sekitar Rp 350 miliar. Sedangkan yang terpakai sekitar Rp 100 miliar.

Pemkab, lanjutnya, kesulitan bila harus mengandalkan penyelesaian stadion dengan menggunakan dana dari Pendapatan Asli Daerah (PAD). Musababnya, Pemkab memiliki program-program lain guna menyelesaikan persoalan lain seperti stunting (gangguan pertumbuhan anak). Namun, Ade mengaku bakal memperjuangkan penyelesaian pembangunan stadion yang mandek tersebut.

“Saya akan berjuang mencari dukungan pembiayaan baik dari provinsi atau dari pusat, mengingat kemampuan PAD Kabupaten tidak memungkinkan membiayai pembangunan itu sampai selesai,” ucapnya.

Akan tetapi, persoalan menyeruak terkait dari manakah sumber pembiayaan stadion? Lalu, kenapa Pemprov bersikeras tak membiayai sedangkan Pemkab menyatakan sebaliknya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Tasikmalaya Yusep Yustisiawandana menegaskan, bantuan pembangunan stadion berasal dari kucuran Bantuan Gubernur (Bangub) Jabar yang dimulai sejak 2011. Skema pemberian bantuan tak berlangsung setiap tahun. Fulus itu dikucurkan pada 2011, 2012, 2015.‎ “Tiga tahun penganggaran satu kali perubahan,” ucap Yusep.

Total Bangub yang digelontorkan mencapai Rp 65 miliar. Peruntukkannya pun sudah jelas yakni untuk pembangunan Sarana Olahraga (Sor) Mangunreja. “Jadi dalam Pergubnya sudah langsung disebut pembangunan Sor,” ucap Yusep.

Sementara Pemkab baru mengeluarkan dana Rp 1 miliar guna pemagaran stadion. Dengan demikian, total dana yang telah keluar hingga kondisi terakhir stadion mencapai Rp 66 miliar.

Menariknya, permasalahan mangkraknya Stadion Mangunreja turut disorot Ketua Umum Persitas Kabupaten Tasikmalaya sekaligus anggota Komisi 1 DPRD Kabupaten Tasikmalaya Basuki Rahmat. Setelah pembangunan berjalan beberapa tahun dari 2011, pembiayaan dari Pemprov agak tersendat.

Gubernur yang saat itu dijabat Ahmad Heryawan diminta memfasilitasi penyelesaian pembangunan stadion. Alasannya, Kabupaten Tasikmalaya tak memiliki lagi sarana olahraga selepas penyerahan aset Lapangan Dadaha ke Pemkot Tasikmalaya. “Kemudian Pemprov mengucurkan dana Rp 100 miliar,” ujar Basuki dalam sambungan telefonnya, Kamis siang.

Uang yang disebut Basuki sebagai Bantuan Provinisi (Banprov) tersebut merupakan kompensasi pengalihan aset Dadaha. Ternyata dana Rp 100 miliar tersebut di luar bantuan Rp 65 miliar dari Pemprov. “Namun di dalam klausul APBD tidak tegas disebutkan untuk penyelesaian stadion cuma (disebut) Banprov saja,” kata Basuki.

Akibatnya, Pemkab saat itu yang dipimpin Bupati Uu Ruzhanul Ulum malah menggunakan dana penyelesaian pembangunan stadion untuk kepentingan lain. “‎Kalau tidak salah Rp 40 miliar untuk (pengerjaan) bangunan kantor dinas pertanian, dinas Lingkungan hidup, dinas sosial, koperasi. (Sisanya) yang Rp 60 miliar digunakan (pembangunan) jalan,” ucapnya.

Penggunaan dana yang tak sesuai peruntukkannya, lanjut Basuki, konon membuat Pemprov ngambek dan enggan mengucurkan bantuan lagi. “Secara administratif tidak ada yang salah sesuai RPJM kita (penggunaan dana di luar pembangunan stadion). Mungkin dari segi etika saja,” ujar Basuki mengomentari ketidaksesuain peruntukan tersebut.

Dia mengaku tak mengetahui bagaimana komunikasi yang terbangun antara bupati dengan dinas terkait sehingga penggunaan dana tak sesuai dengan tujuannya sebagai kompensasi Dadaha. Menurutnya, bupati semestinya mengetahuinya. “Kan dinas harus ngasih tahu,” ujarnya.

Dia menambahkan, kronologis pembangunan Stadion Mangunreja bermula sekitar lima tahun lalu. Pemprov menawarkan bantuann pembangunan stadion sepak bola guna persiapan SEA Games yang diawali PON Jabar. Syarat bantuan, Pemda mesti menyediakan lahan. “Kita tangkap peluang itu,” ujarnya. Karena lahan Pemkab tak cukup, dibebaskan lahan lain dengan nilai sekitar Rp 5 miliar. ‎

Basuki menilai, Pemkab tak memiliki keinginan untuk menyelesaikan pembangunan Stadion Mangunreja. “Karena mungkin tidak dianggap penting,” ujar Basuki.

Indikatornya, terlihat dari tidak adanya usulan Pemkab sebagai pihak eksekutif ke DPRD mengenai upaya penyelesaian stadion. “Pasif saja nunggu Banprov,” ucapnya.

Basuki juga mempertanyakan perjuangan seperti apa yang bakal dilakukan Bupati Ade Sugianto agar stadion rampung. Sementara Basuki mengaku telah berkomunikasi dengan Uu yang kini menjabat Wakil Gubernur Jabar guna penyelesaian stadion.

Mangkraknya pembangunan stadion membuat Persitas, tim lokal Kabupaten Tasikmalaya ‎meminjam Stadion Galuh, Ciamis ketika berlaga di Liga 3. Sementara latihan tetap dipaksakan berlangsung di Mangunreja.

sumber: pr

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *