Ini Empat Pesantren Tua di Tasikmalaya Didirikan Abad 18 dan 19

oleh -2.013 views

 

TASIKMALAYA, JP.Com – Tasikmalaya terkenal dengan seribu pesantrennya. Keberadaan pesantren di Tasikmalaya sudah ada sejak tahun 1800-an. Berikut ini kami menghimpun empat pesantren tertua di Tasikmalaya. Data tersebut diambil dari sejumlah fakta dan reperensi.
Nah, Inilah Pesantren yang tertua di Tasikmalaya

1. Pesantren Riyadhul Ulum Wadda’wah

Pesantren ini lokasinya di Cibeureum, Kota Tasikmalaya. Atau sekitar 6 kilomneter dari pusat Kota Tasikmalaya. Pesantren ini termasuk salah satu pesantren tertua di Indonesia karena berdiri pada tahun 1864.
Pendirinya adalah KH. Nawawi dari Rajapolah. Sedangkan tanah untuk membangun pesantren adalah pemberian Pangeran Cornell seluas 500 tumbak (7.000 meter persegi). Pangeran Cornell adalah penguasa Kerajaan Sumedang Larang. Saat itu memang Tasikmalaya di bawah kekuasaan Sumedang.

Sampai saat ini surat-surat pemberian tanah dari Pangeran Cornell masih tersimpan dengan baik. Dalam perkembangannya pesantren ini merupakan pesantren besar di Kota Tasikmalaya dengan luas lahan 5,5 hektare. Selain mengadakan pengajian kitab kuning. Pesantren ini juga memiliki lembaga pendidikan formal dari SD Sampai SLTA.

2. Pesantren Zumrotul Muttaqien Gunung Pari

Lokasinya berada di Desa Sukamenak, Kecamatan Sukarame, Kabupaten Tasikmalaya. Atau sekitar 5 kilometer dari Singaparna. Didirikan oleh KH Zumrotul Muttaqin, sekitar tahun 1880.

KH Zumrotul Muttaqin, dikenal sebagai salah seorang ulama yang sangat wara(menjaga diri dari yang haram). Dakwahnya pun terasa sejuk. Makanya dia sangat dihormati para ulama, bahkan Belanda pada saat itu. Belanda pun selalu membuat teritori atau menjaga jarak dengan lokasi Pesantren.Kalau ada pertempuran Gunung Pari tak pernah didatangi Belanda.

Salah satu murid terkenal beliau adalah KH Zainal Mustofa, pahlawan nasional yang juga sekaligus Pendiri Pesantren Sukamanah Sukahideng Singaparna.

Makam KH Zumrotul Muttaqin berada di kawasan Ponpes. Murid-murid KH Zumrotul Muttaqin kerap melakukan napak tilas di kompleks pesantren. Saat ini Ponpes berkembang pesat di bawah naungan Yayasan Pendidikan Pondok Pesantren KH. Zumratul Muttaqien.

3. Ponpes Suryalaya

Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya Jawa Barat Indonesia didirikan oleh Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad atau Abah Sepuh pada pada 7 Rajab 1323 H atau 5 September 1905. Beliau adalah mursyid tarikat Qadiriyah Naqsyabandiyah

Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad dapat mendirikan sebuah pesantren walaupun dengan modal awal sebuah mesjid yang terletak di kampung Godebag, desa Tanjung Kerta. Pondok Pesantren Suryalaya itu sendiri diambil dari istilah sunda yaitu Surya = Matahari, Laya = Tempat terbit, jadi Suryalaya secara harfiah mengandung arti tempat matahari terbit.

Pada awalnya Syeikh Abdullah bin Nur Muhammad sempat bimbang, akan tetapi guru beliau Syaikh Tholhah bin Talabudin memberikan motivasi dan dorongan juga bimbingan khusus kepadanya, bahkan beliau pernah tinggal beberapa hari sebagai wujud restu dan dukungannya. Pada tahun 1908 atau tiga tahun setelah berdirinya Pondok Pesantren Suryalaya, Abah Sepuh mendapatkan khirqoh (legitimasi penguatan sebagai guru mursyid) dari Syaikh Tholhah bin Talabudin

Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad berpulang ke Rahmattullah pada tahun 1956 di usia 120 tahun. Kepemimpinan dan kemursyidannya dilimpahkan kepada putranya yang kelima, yaitu KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin yang akbrab dipanggil dengan sebutan Abah Anom. Pada masa awal kepemimpinan Abah Anom juga banyak mengalami kendala yang cukup mengganggu, di antaranya pemberontakan DI/TII.

Dari tahun ke tahun Pondok Pesantren Suryalaya semakin berkembang, sesuai dengan tuntutan zaman, maka pada tanggal 11 maret 1961 atas prakarsa H. Sewaka (Alm) mantan Gubernur Jawa Barat (1947 – 1952) dan mantan Mentri Pertahanan RI Iwa Kusuma Sumantri (Alm) (1952 – 1953). Dibentuklah Yayasan Serba Bakti Pondok Pesantren Suryalaya. Yayasan ini dibentuk dengan tujuan untuk membantu tugas Abah Anom dalam penyebaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dan dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pada masa kepemimpinan Abah Anom, Pondok Pesantren Suryalaya berperan aktif dalam kegiatan Keagamaan, Sosial, Pendidikan, Pertanian, Kesehatan, Lingkungan Hidup, dan Kenegaraan. Hal ini terbukti dari penghargaan yang diperoleh baik dari presiden, pemerintah pusat dan pemerintah daerah, bahkan dari dunia internasional atas prestasi dan jasa-jasanya. Dengan demikian eksistensi atau keberadaan Pondok Pesantren Suryalaya semakin kuat dan semakin dibutuhkan oleh segenap umat manusia.

4. Ponpes Cipasung

Ponpes Cipasung didirikan oleh KH. Ruhiat pada akhir tahun yaitu akhir tahun 1931. Beliau wafat tanggal 28 November 1977 bertepatan dengan 17 Dzulhijjah 1397 H.

Selama 46 tahun KH Ruhiyat membesarkan pesantren. Suka dukanya pun dirasakan dalam rentanbg waktu itu dari masa pendudukan Belanda dan Jepang.

Awalnya santri yang menetap di Pondok Pesantren ini berjumlah kurang lebih 40 orang yang sebagian besar adalah yang ikut dari Pesantren Cilenga, tempat beliau mondok. Di samping itu banyak pula para santri yang pada malam hari mengaji dan siangnya kembali ke rumahnya atau santri kalong.

Pada tahun 1935 didirikan sekolah agama (madrasah diniyah). Sekolah inilah yang pertama sekali didirikan di Pondok Pesantren Cipasung.

Setelah kemerdekaan, Ponpes Cipasung berkembang pesat. Ponpes Cipasung juga menjadi pesantren terbesar di Jawa Barat dengan menyelanggarakan pendidikan formal dari TK sampai Perguruan Tinggi. Bahkan Ponpes ini sangat berpengaruh di kalangan Nahdlatul Ulama. (eri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *